Israel di Persimpangan: Tekanan Global, Dukungan Terpecah, dan Perang yang Tak Kunjung Usai

By

Whitney Riany

28 Juli 2026, 14:46 WIB

Israel di Persimpangan: Tekanan Global, Dukungan Terpecah, dan Perang yang Tak Kunjung Usai
Israel di Persimpangan: Tekanan Global, Dukungan Terpecah, dan Perang yang Tak Kunjung Usai

STNK.CO.ID – 28 Juli 2026 | Hubungan Israel dengan komunitas internasional kembali menjadi sorotan tajam pada pekan terakhir Juli 2026. Dari penolakan tegas Malaysia terhadap pengakuan negara Yahudi tersebut, hingga pameran seni Turki yang menyuarakan perlawanan Palestina di Ramallah, serta pertemuan kritis Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington, isu seputar Israel dan konflik di Timur Tengah semakin kompleks. Artikel ini mengupas tuntas dinamika terkini yang melibatkan Israel, sekutunya, dan negara-negara yang menentang kebijakannya.

Baca juga:

Malaysia Tegas Menolak Israel di Tengah Tekanan AS

Pemerintah Malaysia kembali menegaskan sikapnya yang tidak akan mengakui Israel, meskipun menghadapi tekanan meningkat dari Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menyatakan bahwa kebijakan tersebut bukanlah respons terhadap situasi terkini, melainkan posisi resmi yang telah dipertahankan oleh berbagai pemerintahan sejak lama. Pernyataan ini mencuat setelah Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada 15 Juli lalu menegaskan kebijakan pengusiran warga negara Israel dari Malaysia, yang memicu kemarahan anggota Kongres AS. Para legislator AS mendesak Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk meninjau kembali hubungan keamanan dan ekonomi dengan Kuala Lumpur, serta menghentikan program pelatihan militer untuk personel Malaysia.

Malaysia, yang mayoritas penduduknya Muslim, tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan melarang pemegang paspor Israel memasuki wilayahnya sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina. Pemanggilan Duta Besar Malaysia untuk AS, Shahrul Ikram, oleh Departemen Luar Negeri AS pekan lalu menjadi bukti nyata ketegangan bilateral tersebut. Menlu Hasan menegaskan bahwa kebijakan imigrasi Malaysia tidak mengakui negara Israel ataupun rezim Zionis, dan posisi ini telah menjadi landasan sejak lama.

Solidaritas Seni: Pameran Turki di Ramallah Menggugat Pendudukan Israel

Sementara itu, di Tepi Barat, pameran seni bertajuk “Posters to the Olive Tree in Exile” resmi dibuka di Museum Mahmoud Darwish, Ramallah. Karya seniman Turki Ahmet Yusuf Aygec ini menggabungkan gambar berwarna dengan puisi penyair nasional Palestina, Mahmoud Darwish, untuk mengeksplorasi tema penderitaan, ketahanan, dan keterikatan pada tanah air. Aygec tidak dapat hadir karena Israel menolak memberikan visa, namun pesannya tersampaikan melalui 20 karya yang dipamerkan. Menteri Kebudayaan Palestina, Imad Hamdan, menyebut pameran ini penting karena menghidupkan puisi Darwish melalui perspektif seniman Turki. Kurator Samed Karagoz menambahkan bahwa pameran terinspirasi dari tradisi poster Palestina tahun 1960-1970-an yang memengaruhi seniman grafis di seluruh Eropa. Sikap Israel yang menolak visa seniman semakin memperkuat citra represif terhadap ekspresi budaya Palestina.

Baca juga:

Pertemuan Netanyahu-Trump: Perang Iran dan Ketegangan Aliansi

Di Washington, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan Presiden Donald Trump pada Selasa, 28 Juli 2026, dalam pertemuan pertama mereka sejak perang bersama melawan Iran dimulai. Pertemuan ini terjadi di tengah tekanan politik di dalam negeri masing-masing dan ketegangan yang semakin dalam antar sekutu. Netanyahu berupaya memperbaiki hubungan dengan Trump, yang sempat renggang setelah panggilan telepon pada Juni lalu di mana Trump menyebut Netanyahu “f***ing crazy”. Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan untuk mengakhiri perang karena dampak ekonomi yang memicu kenaikan harga dan menjadi beban politik menjelang pemilu paruh waktu November 2026.

Wakil Presiden JD Vance, yang pernah memperingatkan Israel bahwa Trump adalah “satu-satunya teman” mereka, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Keduanya dijadwalkan membahas kerangka kesepakatan dengan Lebanon terkait perang Israel-Hezbollah, serta perluasan Perjanjian Abraham. Meskipun Trump mengakui adanya “sedikit perbedaan” dengan Netanyahu mengenai Iran, ia menekankan bahwa hubungan tetap dekat. Sementara itu, Netanyahu ingin mendapatkan dukungan Trump untuk kampanye pemilihan ulangnya pada 27 Oktober 2026, di mana ia tertinggal dalam jajak pendapat.

Debat Senat Michigan: Israel dan AIPAC Jadi Medan Pertempuran Politik

Di tingkat domestik AS, isu Israel menjadi pusat perdebatan dalam pemilihan pendahuluan Senat Michigan antara anggota DPR Haley Stevens dan Abdul El-Sayed. Dalam debat yang disiarkan pada 27 Juli, El-Sayed secara terbuka menentang dukungan AS kepada Israel dan AIPAC (komite aksi politik pro-Israel). Stevens, sebaliknya, mendukung solusi dua negara dan menyoroti upayanya membawa pulang sandera setelah serangan Hamas 7 Oktober 2023. Moderator mendesak Stevens untuk mengomentari pengeluaran AIPAC sebesar $46 juta dalam perlombaan tersebut, namun ia mengalihkan serangan dengan menuduh El-Sayed tidak transparan dalam keuangan kampanye. Debat ini menunjukkan betapa isu Israel semakin memecah belah Partai Demokrat, dengan kubu progresif menuntut perubahan kebijakan terhadap Israel dan dukungan tanpa syarat dari kelompok garis keras.

Baca juga:

Krisis Kemanusiaan dan Diplomasi Global: Peran Amerika dan Israel

Kunjungan Netanyahu ke Washington bersamaan dengan kedatangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, yang juga menghadiri upacara peringatan Senator Lindsey Graham. Kedua pemimpin itu berusaha mengamankan dukungan AS di tengah perang yang melelahkan. Trump, yang sebelumnya memompa bantuan militer ke Ukraina, kini menghadapi tekanan dari basisnya yang menentang keterlibatan lebih dalam di Timur Tengah. Gencatan senjata dalam perang Iran runtuh, memaksa Trump menghentikan sementara serangan udara untuk memberi peluang diplomasi. Sementara itu, Zelenskiy mendapatkan kepercayaan diri setelah keberhasilan Ukraina menggagalkan serangan Rusia.

Di tengah semua ini, Israel tetap menjadi pusaran konflik yang mempengaruhi hubungan bilateral banyak negara. Malaysia, Turki, dan berbagai negara Muslim terus menekan Israel melalui diplomasi dan aksi nyata. Tekanan dari Partai Demokrat progresif di AS juga semakin kuat, menuntut perubahan pendekatan terhadap konflik Israel-Palestina. Pertemuan Netanyahu dengan Trump diharapkan menghasilkan kesepakatan untuk memperluas Perjanjian Abraham, namun tanpa penyelesaian yang adil bagi Palestina, perdamaian masih sulit terwujud.

Kesimpulan

Israel kini berada di persimpangan yang kritis. Di satu sisi, sekutu tradisionalnya seperti Amerika Serikat mulai menunjukkan kelelahan perang dan tekanan domestik. Di sisi lain, negara-negara seperti Malaysia dan gerakan seni dari Turki terus menentang kebijakan Israel terhadap Palestina. Di dalam negeri AS, isu Israel menjadi alat politik yang membelah partai. Pertemuan Trump-Netanyahu mungkin akan menghasilkan langkah diplomasi baru, namun tanpa perubahan fundamental dalam pendekatan Israel terhadap Palestina dan Iran, siklus konflik akan terus berlanjut. Dunia menanti apakah Israel akan memilih jalur perdamaian atau memperdalam isolasi internasionalnya.

Author Image

Related Post