Daftar Isi
STNK.CO.ID – 11 Juli 2026 | Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan kembali meningkat seiring kondisi lahan gambut yang mengering. Fenomena lahan gambut mengering ancaman karhutla di Kalsel meningkat ini menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan. BPBD segera mengambil langkah strategis dengan melakukan pembasahan (rewetting) pada lahan-lahan gambut yang kritis guna mencegah potensi kebakaran yang lebih luas.
Penyebab Mengeringnya Lahan Gambut
Musim kemarau yang berkepanjangan menjadi faktor utama mengeringnya lahan gambut di Kalsel. Curah hujan yang rendah menyebabkan kadar air di dalam gambut menurun drastis. Kondisi ini diperparah oleh alih fungsi lahan dan drainase yang tidak terkendali, sehingga kemampuan gambut menahan air semakin berkurang. Ketika gambut kering, material organik di dalamnya menjadi sangat mudah terbakar dan api dapat menjalar di bawah permukaan tanah (ground fire) yang sulit dipadamkan.
Dampak Karhutla bagi Lingkungan dan Masyarakat
Kebakaran lahan gambut tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Asap dari kebakaran gambut dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan, mengganggu aktivitas penerbangan, dan menurunkan kualitas udara secara signifikan. Di Kalsel, karhutla sering terjadi di wilayah Kabupaten Barito Kuala, Banjar, dan Tanah Laut. Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena tindakan tersebut melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Upaya BPBD dalam Pencegahan Karhutla
BPBD Kalsel telah mengidentifikasi titik-titik rawan karhutla dan menyiapkan tim reaksi cepat. Langkah pembasahan gambut dilakukan dengan cara menyekat kanal-kanal drainase dan menginjeksikan air ke dalam tanah gambut. Selain itu, BPBD juga melakukan patroli rutin dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya karhutla. Kolaborasi dengan TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus diperkuat untuk memastikan penanganan dini jika muncul titik api.
Pembasahan gambut dianggap sebagai solusi jangka pendek yang efektif. Namun, untuk jangka panjang, diperlukan pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan, termasuk pemulihan fungsi hidrologis gambut melalui pembangunan sekat kanal dan penanaman kembali vegetasi asli. Bupati dan walikota di Kalsel juga didorong untuk mengeluarkan kebijakan pembatasan pembukaan lahan gambut baru.
Peran Masyarakat dalam Mencegah Karhutla
Partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan. Warga diimbau untuk segera melaporkan jika melihat titik api atau asap di lahan gambut. Selain itu, hindari membuang puntung rokok sembarangan di area gambut. Pemerintah daerah telah menyediakan hotline pengaduan bencana yang dapat dihubungi selama 24 jam. Dengan kesadaran bersama, risiko karhutla di Kalsel dapat ditekan seminimal mungkin.
Kondisi lahan gambut yang mengering memang menjadi ancaman serius, namun dengan langkah antisipasi yang tepat, dampak karhutla dapat diminimalkan. BPBD Kalsel berkomitmen untuk terus memantau situasi dan mengambil tindakan preventif agar masyarakat tetap aman dan lingkungan terlindungi.




