BI-Rate 5,75% Dinilai Efektif Menahan Penurunan Rupiah oleh Ekonom

By

Gonzalo Bariz Asentzio

22 Juli 2026, 20:51 WIB

BI-Rate 5,75% Dinilai Efektif Menahan Penurunan Rupiah oleh Ekonom
BI-Rate 5,75% Dinilai Efektif Menahan Penurunan Rupiah oleh Ekonom

STNK.CO.ID – 22 Juli 2026 | Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, mengungkapkan bahwa keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% cukup berhasil menahan penurunan rupiah. Pernyataan ini disampaikan menanggapi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Juli 2026. Menurutnya, kebijakan suku bunga acuan tersebut memberikan sinyal stabilitas di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.

Baca juga:

Noval menjelaskan, langkah BI mempertahankan BI-Rate 5,75% merupakan respons yang tepat terhadap gejolak pasar keuangan global. Kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian ekonomi dunia mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Dengan suku bunga yang kompetitif, Indonesia mampu menarik minat investor asing dan mencegah pelemahan rupiah yang lebih dalam.

Dampak Positif pada Nilai Tukar

Sejak BI mempertahankan BI-Rate di level tersebut, rupiah menunjukkan pergerakan yang relatif stabil dibandingkan mata uang lainnya di kawasan Asia. Noval Adib menilai, kebijakan ini memberikan kepastian bagi pelaku pasar. “Ekonom Sebut BI-Rate 5,75 Cukup Berhasil Tahan Penurunan Rupiah, dan ini terbukti dari volatilitas yang terkendali,” ujarnya.

Data menunjukkan bahwa cadangan devisa tetap terjaga, sehingga intervensi BI di pasar valas dapat dilakukan secara efektif. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa BI-Rate 5,75% adalah level yang tepat untuk kondisi saat ini.

Baca juga:

Perbandingan dengan Negara Lain

Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia, tingkat suku bunga Indonesia masih menarik bagi investor. Noval menambahkan, “Ekonom Sebut BI-Rate 5,75 Cukup Berhasil Tahan Penurunan Rupiah, sementara negara lain terpaksa menaikkan suku bunga lebih agresif.” Keunggulan ini membantu Indonesia mempertahankan stabilitas makroekonomi.

Sisi Lain yang Perlu Diwaspadai

Meskipun demikian, Noval mengingatkan bahwa kebijakan ini tidak boleh membuat pemerintah lengah. Tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi harus tetap menjadi perhatian. Suku bunga yang relatif tinggi dapat menekan konsumsi domestik dan investasi. Oleh karena itu, koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal sangat penting.

Pemerintah perlu mendorong sektor riil agar tetap bergerak, terutama di tengah perlambatan ekonomi global. “BI-Rate 5,75% harus didukung dengan kebijakan yang mendorong ekspor dan investasi,” kata Noval.

Baca juga:

Kesimpulan

Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 5,75% dinilai cukup berhasil dalam menahan penurunan rupiah. Namun, tantangan ke depan masih ada. Pemerintah dan BI perlu terus bekerja sama untuk menjaga stabilitas ekonomi. Dengan demikian, perekonomian Indonesia dapat tumbuh berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.

Related Post