Daftar Isi
STNK.CO.ID – 18 Juli 2026 | Kota Sukabumi menetapkan status siaga kekeringan hingga 30 September 2026, menyusul musim kemarau panjang yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun depan. Dalam rangka mengantisipasi krisis air bersih, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi menyiagakan armada tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter untuk mendukung distribusi air ke daerah-daerah yang terdampak. Langkah ini dilakukan setelah pemerintah setempat mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kekeringan yang dapat meluas di wilayah perkotaan dan pinggiran.
Kesiapsiagaan PMI Menghadapi Kekeringan
PMI Kota Sukabumi telah menyiapkan satu unit tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter yang siap dikerahkan kapan saja ke lokasi-lokasi yang membutuhkan. Armada ini dilengkapi dengan peralatan distribusi air, termasuk selang dan pompa, untuk memudahkan pengisian ke penampungan warga. Kepala Markas PMI Kota Sukabumi, Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa pihaknya berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk memetakan titik-titik rawan kekeringan. “Kami akan memprioritaskan area yang paling sulit mendapatkan akses air bersih, seperti permukiman padat penduduk dan daerah perbukitan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (15/8/2025).
Dampak Kekeringan di Kota Sukabumi
Kekeringan di Kota Sukabumi diperparah oleh fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih kering dan panjang dari biasanya. Beberapa kelurahan di Kecamatan Warudoyong, Gunungpuyuh, dan Baros sudah mulai melaporkan penurunan debit air sumur dan PDAM. Warga mengeluhkan air keruh dan bau, sehingga tidak layak konsumsi tanpa pengolahan. Seorang warga Kelurahan Karamat, Siti Rahma, mengatakan bahwa sumur di rumahnya mulai mengering sejak dua minggu terakhir. “Kami harus membeli air bersih seharga Rp20.000 per jeriken. Semoga bantuan dari PMI bisa meringankan beban kami,” tuturnya.
Upaya Pemerintah Daerah
Pemerintah Kota Sukabumi tidak tinggal diam. Mereka telah mengaktifkan posko darurat kekeringan di setiap kecamatan dan menyediakan layanan pengaduan bagi warga yang membutuhkan bantuan air bersih. Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan bekerja sama dengan PDAM Tirta Bumi Wibawa untuk mengoptimalkan penyaluran air melalui mobil tangki. Namun, karena keterbatasan armada, pemerintah mengimbau masyarakat untuk hemat air dan menampung air hujan sebagai cadangan.
Peran PMI dalam Distribusi Air Bersih
PMI Kota Sukabumi tidak hanya menyiapkan tangki air, tetapi juga membentuk tim relawan yang akan membantu distribusi dan edukasi penghematan air. Relawan PMI juga akan memantau kualitas air yang dibagikan agar memenuhi standar kesehatan. “Kami berkomitmen untuk terus mendukung warga hingga masa siaga kekeringan berakhir pada September 2026,” tambah Ahmad Fauzi. Dengan kapasitas tangki 5.000 liter, satu kali perjalanan dapat melayani sekitar 250 rumah tangga, dengan asumsi setiap rumah mendapat 20 liter air bersih.
Antisipasi Jangka Panjang
Kejadian kekeringan ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Pemerintah Kota Sukabumi berencana membangun lebih banyak sumur resapan dan waduk penampungan air hujan. Selain itu, kampanye hemat air akan digalakkan di sekolah-sekolah dan komunitas. Sementara itu, kerjasama dengan PMI dan lembaga kemanusiaan lainnya terus diperkuat untuk menghadapi potensi bencana serupa di masa depan.
Kota Sukabumi Siaga Kekeringan PMI Siapkan Tangki Air Bersih merupakan langkah konkret yang patut diapresiasi. Dengan sinergi antara pemerintah daerah, PMI, dan masyarakat, diharapkan dampak kekeringan dapat diminimalisir. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan melaporkan kesulitan akses air bersih ke call center BPBD atau posko terdekat. Semoga upaya ini dapat memberikan kelegaan bagi warga yang terdampak.




