Harga Cabai di Bangka Masih Tinggi, Cabai Rawit Capai Rp75 Ribu per Kilogram

By

Wareine Deaglan

19 Juli 2026, 14:51 WIB

Harga Cabai di Bangka Masih Tinggi, Cabai Rawit Capai Rp75 Ribu per Kilogram
Harga Cabai di Bangka Masih Tinggi, Cabai Rawit Capai Rp75 Ribu per Kilogram

STNK.CO.ID – 19 Juli 2026 | Harga cabai di Bangka masih tinggi, cabai rawit tembus Rp75 ribu per kg di pasar tradisional Kabupaten Bangka. Lonjakan harga ini terjadi sejak beberapa pekan terakhir dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Meskipun harga melambung tinggi, daya beli masyarakat justru meningkat, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan dan musim panen yang belum optimal.

Baca juga:

Penyebab Kenaikan Harga

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka, Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, gangguan cuaca yang mengakibatkan gagal panen di sejumlah sentra produksi cabai di Bangka. Kedua, distribusi yang terhambat akibat terbatasnya pasokan dari luar daerah. Ketiga, meningkatnya permintaan dari sektor rumah tangga dan industri kecil menengah.

“Produksi cabai di Bangka belum mampu memenuhi kebutuhan lokal. Kami masih mengandalkan pasokan dari luar pulau, seperti Sumatera Selatan dan Jawa. Namun, cuaca buruk menyebabkan produksi di sana juga menurun,” ujar Ahmad dalam konferensi pers, Minggu (12/11).

Dampak terhadap Masyarakat

Para pedagang di Pasar Induk Sungailiat mengeluhkan harga cabai rawit yang tinggi. Siti, seorang pedagang sayur, mengatakan bahwa ia harus menaikkan harga jual karena harga beli dari distributor sudah naik. “Biasanya saya jual cabai rawit Rp50 ribu per kg, sekarang terpaksa Rp75 ribu. Pembeli memang agak mengeluh, tapi tetap beli karena mereka butuh,” katanya.

Di sisi lain, konsumen seperti Rina (35) mengaku mengurangi pembelian cabai rawit dan beralih ke cabai keriting yang lebih murah, yaitu Rp40 ribu per kg. “Sebulan lalu saya beli cabai rawit seminggu dua kali, sekarang seminggu sekali. Harganya terlalu mahal,” ujarnya.

Kenaikan harga cabai rawit ini juga berdampak pada harga makanan jadi. Warung makan dan pedagang gorengan mulai menyesuaikan harga jual. Hal ini dikhawatirkan akan memicu inflasi pangan di Bangka.

Meski harga cabai di Bangka masih tinggi, cabai rawit tembus Rp75 ribu per kg, namun permintaan tidak menurun drastis. Hal ini menunjukkan bahwa cabai rawit merupakan komoditas esensial bagi masyarakat Bangka. Pemerintah daerah berjanji akan menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga.

“Kami akan berkoordinasi dengan Bulog dan distributor untuk menggelar pasar murah. Semoga dalam sepekan ke depan harga bisa turun kembali,” tambah Ahmad.

Upaya Pemerintah

Pemerintah Kabupaten Bangka telah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi lonjakan harga cabai. Salah satunya adalah mendorong petani untuk mempercepat masa tanam dan panen. Selain itu, kerja sama dengan daerah penghasil cabai di Pulau Sumatera terus diperkuat.

Kepala Dinas Pertanian Bangka, Bambang Supriyadi, mengungkapkan bahwa pihaknya memberikan bantuan bibit cabai unggul dan pupuk kepada petani. “Kami targetkan produksi cabai lokal bisa meningkat 20% dalam tiga bulan ke depan sehingga ketergantungan pada pasokan luar berkurang,” ujarnya.

Namun, para petani masih menghadapi kendala, seperti serangan hama dan keterbatasan modal. Kelompok tani di Kecamatan Pemali mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Hal ini menyebabkan beberapa lahan tidak ditanami cabai.

Kondisi harga cabai di Bangka masih tinggi, cabai rawit tembus Rp75 ribu per kg menjadi perhatian serius. Pemerintah diharapkan segera mengambil tindakan nyata agar beban masyarakat tidak semakin berat.

Sebagai penutup, fluktuasi harga cabai ini menunjukkan kerentanan sistem pangan daerah. Diversifikasi sumber pasokan dan peningkatan produksi lokal menjadi kunci jangka panjang. Masyarakat diimbau untuk mengonsumsi cabai secara bijak dan tidak panic buying.

Related Post