Darurat Sampah: Daerah Keluhkan Mahalnya Biaya Pendanaan Proyek PSEL, Pemerintah Pusat Siapkan Solusi

By

Rosmana Kaileena Kaileena

17 Juli 2026, 01:51 WIB

Darurat Sampah: Daerah Keluhkan Mahalnya Biaya Pendanaan Proyek PSEL, Pemerintah Pusat Siapkan Solusi
Darurat Sampah: Daerah Keluhkan Mahalnya Biaya Pendanaan Proyek PSEL, Pemerintah Pusat Siapkan Solusi

STNK.CO.ID – 17 Juli 2026 | Darurat sampah daerah keluhkan mahalnya pendanaan proyek PSEL menjadi isu yang mendesak di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah daerah (pemda) mengeluhkan bahwa biaya pendanaan proyek Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) masih terlalu tinggi, terutama terkait dengan mekanisme tipping fee yang membebani anggaran daerah. Kondisi ini menghambat realisasi program pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Baca juga:

Kendala Pendanaan PSEL di Daerah

Sejumlah pemda melaporkan bahwa proyek PSEL memerlukan investasi awal yang besar, sementara kemampuan fiskal daerah terbatas. Biaya operasional, termasuk tipping fee yang harus dibayarkan kepada pengelola proyek, dinilai tidak sebanding dengan pendapatan daerah. Akibatnya, banyak proyek mangkrak atau berjalan lambat.

  • Biaya Investasi Tinggi: Pembangunan fasilitas PSEL membutuhkan dana hingga triliunan rupiah, yang sulit dipenuhi oleh APBD.
  • Beban Operasional: Tipping fee yang merupakan biaya per ton sampah yang masuk ke fasilitas PSEL seringkali tidak tertutup oleh tarif listrik yang dihasilkan.
  • Keterbatasan Teknis: Daerah dengan volume sampah kecil kesulitan mencapai skala ekonomi yang memadai.

Langkah Pemerintah Pusat

Menanggapi keluhan tersebut, pemerintah pusat berupaya menyederhanakan mekanisme pendanaan melalui kebijakan yang lebih terpusat. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyatakan bahwa akan dibentuk skema pembiayaan khusus yang mengurangi beban tipping fee bagi pemda. Selain itu, pemerintah juga mendorong partisipasi swasta dan lembaga keuangan internasional untuk menekan biaya.

Baca juga:

Beberapa langkah konkret yang diusulkan antara lain:

  1. Subsidi tipping fee dari APBN untuk proyek PSEL di daerah dengan kategori darurat sampah.
  2. Penyederhanaan perizinan untuk mempercepat pembangunan proyek.
  3. Peningkatan kapasitas teknis pemda melalui pelatihan dan pendampingan.

Dampak Darurat Sampah

Darurat sampah daerah keluhkan mahalnya pendanaan proyek PSEL bukan hanya soal finansial, tetapi juga berimplikasi pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Tumpukan sampah yang tidak terkelola menyebabkan polusi udara, pencemaran air tanah, dan risiko banjir. Oleh karena itu, solusi pendanaan yang efektif menjadi krusial.

Baca juga:

Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia menekankan bahwa pemerintah perlu menghitung ulang struktur biaya PSEL agar lebih realistis. Jika tidak, kekhawatiran akan gagal bayar proyek akan terus menghantui pemda. Sementara itu, sejumlah daerah mulai mencari alternatif seperti kerja sama regional untuk berbagi biaya dan teknologi.

Kesimpulan

Darurat sampah daerah keluhkan mahalnya pendanaan proyek PSEL merupakan tantangan nyata yang membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah pusat telah merespons dengan rencana penyederhanaan pendanaan, namun implementasinya harus segera direalisasikan. Daerah juga perlu melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah dan mencari mitra strategis. Hanya dengan kolaborasi yang solid, masalah sampah di Indonesia dapat teratasi.

Related Post