Iran Akui Tak Bisa Ekspor Minyak Selama Blokade AS, Kini Ekspor Melonjak hingga 40 Juta Barel Lebih

By

Wareine Deaglan

1 Juli 2026, 21:45 WIB

Iran Akui Tak Bisa Ekspor Minyak Selama Blokade AS, Kini Ekspor Melonjak hingga 40 Juta Barel Lebih
Iran Akui Tak Bisa Ekspor Minyak Selama Blokade AS, Kini Ekspor Melonjak hingga 40 Juta Barel Lebih

Kebangkitan Ekspor Minyak Iran

STNK.CO.ID – 01 Juli 2026 | Iran secara resmi mengakui bahwa selama blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat, negaranya tidak mampu mengekspor satu barel pun minyak. Namun, setelah pencabutan blokade pada pertengahan Juni 2026, ekspor minyak Iran melonjak drastis hingga lebih dari 40 juta barel dalam waktu singkat. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam sebuah wawancara televisi yang disiarkan melalui saluran Telegram resminya.

Baca juga:

Iran akui tak bisa ekspor minyak selama blokade AS, kini ekspor melonjak hingga 40 juta barel lebih menjadi sorotan utama pasar energi global. Ghalibaf menyatakan bahwa selama sekitar dua bulan blokade, seluruh aktivitas ekspor minyak Iran terhenti total. Namun, sejak kesepakatan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz pada 17 Juni, Iran langsung menggenjot pengiriman minyak mentah ke pasar internasional.

Lonjakan Volume dan Harga

Ghalibaf mengklaim bahwa Iran telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak mentah sejak blokade dicabut. Sementara itu, perusahaan pelacak kapal tanker TankerTrackers.com memperkirakan angka tersebut bahkan mencapai 50 juta barel berdasarkan analisis citra satelit dan data sistem identifikasi otomatis. Tidak hanya volume yang meningkat, harga jual minyak Iran juga disebut naik sekitar 20 persen dibandingkan sebelum konflik. Ghalibaf menjelaskan bahwa harga yang lebih tinggi ini disebabkan oleh penurunan risiko distribusi setelah stabilitas kawasan kembali pulih.

Harga minyak mentah Brent saat ini diperdagangkan di kisaran US$73 per barel, turun hampir 40 persen dari puncak perang di US$118 pada April 2026. Penurunan ini dipicu oleh kemajuan diplomatik dan harapan akan pemulihan pasokan dari Teluk. Analis Eurasia Group, Gregory Brew, mencatat bahwa sebelum perang, minyak Iran dijual dengan diskon US$10 hingga US$15 per barel di bawah Brent untuk mengkompensasi risiko sanksi. Kini, dengan meredanya ketegangan, harga jual minyak Iran bisa lebih kompetitif.

Latar Belakang Blokade dan Kesepakatan

Blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran berlangsung hampir dua bulan, dimulai sejak eskalasi konflik di Selat Hormuz pada awal 2026. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Konflik bersenjata antara kedua negara sempat memicu gangguan pasokan global dan lonjakan harga minyak. Namun, pada 17 Juni 2026, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mengakhiri blokade dan membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan ini juga memulai negosiasi selama 60 hari menuju perdamaian permanen, mencakup isu-isu seperti pelonggaran sanksi, pencairan aset Iran, dan program nuklir.

Baca juga:

Meskipun MoU telah ditandatangani, ketegangan masih berlanjut. Iran dan AS saling klaim mengenai niat dan tindakan militer. Pemerintah Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan menuntut pencairan aset sebesar US$6 miliar sebagai bukti itikad baik. Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa posisi AS sangat menguntungkan dan infrastruktur militer Iran telah dihancurkan.

Dampak pada Pasar Energi

Lonjakan ekspor minyak Iran memberikan tekanan tambahan pada harga minyak global yang sudah menurun. Pasokan dari Iran diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa pekan mendatang, mengingat kapasitas produksi Iran yang cukup besar. Sebelum sanksi, Iran mampu memproduksi sekitar 3,8 juta barel per hari. Dengan kembalinya akses ke pasar global, Iran berpotensi menjadi pemasok signifikan yang dapat mengimbangi kekurangan pasokan dari negara lain.

Para analis memperingatkan bahwa pemulihan penuh ekspor Iran dapat memicu kelebihan pasokan dan menekan harga lebih lanjut. Namun, ketidakpastian politik masih membayangi. Iran menegaskan bahwa kedaulatan Selat Hormuz tetap di tangan Iran dan Oman, dan mereka tidak akan melepaskan hak tersebut. Sementara itu, gencatan senjata 60 hari masih rapuh karena adanya insiden militer kecil di kawasan.

Respons Internasional

Langkah Iran ini mendapat tanggapan beragam dari komunitas internasional. Negara-negara pengimpor minyak menyambut baik kembalinya pasokan Iran karena dapat menstabilkan harga. Namun, beberapa negara tetap waspada terhadap potensi eskalasi konflik. Qatar, sebagai mediator, terus berupaya menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, bertemu dengan utusan AS untuk memastikan gencatan senjata tetap berjalan.

Baca juga:

Iran sendiri mengklaim bahwa pencairan aset senilai US$12 miliar yang dibekukan telah digunakan untuk membeli produk pertanian dari AS, namun klaim ini dibantah oleh Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa dana tersebut tidak digunakan untuk pembelian tersebut, melainkan untuk kebutuhan dalam negeri.

Kesimpulan

Pengakuan Iran bahwa selama blokade AS tidak bisa mengekspor minyak sama sekali, dan kini ekspor melonjak hingga 40 juta barel lebih, menunjukkan betapa besar dampak sanksi terhadap perekonomian Iran. Meskipun pemulihan ekspor membawa angin segar bagi Iran dan pasar energi global, ketidakstabilan politik di kawasan masih menjadi ancaman utama. Negosiasi 60 hari ke depan akan menentukan apakah perdamaian permanen dapat tercapai, atau justru konflik baru akan meletus. Yang jelas, pasar minyak akan terus memantau setiap perkembangan di Selat Hormuz.

Related Post