Daftar Isi
Penurunan Peringkat Kepuasan
STNK.CO.ID – 16 Juli 2026 | Survei Post-Ipsos Popularitas Donald Trump Merosot Ditekan Ekonomi dan Iran merupakan temuan terbaru yang mengguncang panggung politik Amerika Serikat. Hasil survei yang dirilis oleh lembaga Post-Ipsos menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump anjlok ke angka 37 persen. Angka ini menandai titik terendah dalam masa kepresidenannya, jauh di bawah rata-rata kepuasan presiden sebelumnya di periode yang sama.
Faktor ekonomi dan konflik dengan Iran menjadi dua isu utama yang membebani popularitas Trump. Survei ini dilakukan pada akhir Januari 2020, saat ketegangan antara AS dan Iran memuncak setelah serangan drone yang menewaskan Jenderal Qasem Soleimani. Publik Amerika mulai mempertanyakan kebijakan luar negeri Trump yang agresif, terutama setelah Iran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak.
Dampak Ekonomi terhadap Persepsi Publik
Di sisi domestik, perlambatan ekonomi dan ketidakpastian perdagangan global turut mempengaruhi sentimen masyarakat. Meskipun Trump sering memuji kinerja pasar saham, banyak warga Amerika yang belum merasakan perbaikan pada pendapatan rumah tangga mereka. Survei Post-Ipsos Popularitas Donald Trump Merosot Ditekan Ekonomi dan Iran juga mencatat bahwa kepercayaan terhadap kemampuan Trump mengelola ekonomi menurun drastis. Hanya 38 persen responden yang menyetujui penanganan ekonominya, sementara mayoritas khawatir tentang defisit anggaran dan perang dagang dengan China.
Sejumlah analis politik berpendapat bahwa penurunan popularitas ini bisa menjadi sinyal bahaya bagi Partai Republik menjelang pemilihan presiden November 2020. Trump sebelumnya mengandalkan citra sebagai pebisnis sukses untuk menarik pemilih, namun kini citra tersebut mulai pudar di hadapan realitas ekonomi yang stagnan.
Konflik Iran dan Isu Keamanan
Konflik dengan Iran memperburuk situasi. Tindakan Trump yang memerintahkan pembunuhan Soleimani tanpa konsultasi dengan Kongres menuai kritik dari berbagai kalangan. Banyak yang menganggap langkah tersebut meningkatkan risiko perang di Timur Tengah. Survei ini mengungkapkan bahwa hanya 34 persen publik yang mendukung kebijakan luar negeri presiden terhadap Iran. Ketegangan ini juga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan tentara AS di kawasan dan potensi serangan balasan.
Selain itu, pendekatan Trump yang sering mengancam dan menarik diri dari kesepakatan internasional dianggap tidak efektif dalam menjaga stabilitas global. Survei Post-Ipsos Popularitas Donald Trump Merosot Ditekan Ekonomi dan Iran menjadi bukti bahwa kombinasi tekanan ekonomi dan militer tidak lagi mendapat tempat di hati rakyat.
Reaksi Partai Republik dan Lawan Politik
Partai Republik kini berada dalam posisi sulit. Beberapa anggota partai mulai menjauh dari Trump, meski sebagian besar masih mendukungnya secara publik. Di sisi lain, kandidat Demokrat seperti Joe Biden dan Bernie Sanders memanfaatkan penurunan popularitas ini untuk menggalang dukungan. Mereka menyerang kebijakan ekonomi Trump yang dinilai hanya menguntungkan segelintir elit, serta mengkritik ketidakmampuannya menjaga perdamaian.
Survei ini juga menunjukkan bahwa elektabilitas Trump dalam pemilihan ulang turun drastis. Jika tidak ada perubahan signifikan, ia mungkin menghadapi kesulitan besar untuk mempertahankan kursi kepresidenan. Para pengamat politik memprediksi bahwa kampanye Trump akan fokus pada isu imigrasi dan pertahanan nasional untuk memulihkan citra, namun hasil survei menunjukkan bahwa isu ekonomi tetap menjadi prioritas utama pemilih.
Kesimpulan dari survei ini jelas: rakyat Amerika menginginkan pemimpin yang mampu membawa stabilitas ekonomi dan perdamaian. Survei Post-Ipsos Popularitas Donald Trump Merosot Ditekan Ekonomi dan Iran menjadi peringatan bagi pemerintahan Trump bahwa pendekatan konfrontatif baik di dalam maupun luar negeri tidak lagi efektif. Waktu akan menentukan apakah Trump mampu bangkit dari keterpurukan ini atau justru semakin terpuruk menuju kekalahan pada November mendatang.




