Daftar Isi
Penelitian Skala Besar Memperkuat Keamanan Parasetamol
STNK.CO.ID – 18 Juli 2026 | Sebuah studi epidemiologi berskala besar yang melibatkan lebih dari 2,4 juta anak di Swedia berhasil membantah kekhawatiran yang selama ini menghantui ibu hamil. Temuan utama studi ini menegaskan bahwa Konsumsi Asetaminofen Saat Hamil Tidak Picu Autisme atau ADHD pada Anak. Parasetamol, yang dikenal sebagai asetaminofen, selama bertahun-tahun menjadi obat andalan untuk meredakan demam dan nyeri ringan hingga sedang pada kehamilan. Namun, beberapa penelitian observasional sebelumnya sempat menimbulkan keraguan akan keamanannya terkait perkembangan saraf janin.
Studi yang dipublikasikan di jurnal JAMA ini menggunakan data dari registrasi nasional Swedia yang mencakup anak-anak yang lahir antara tahun 1995 dan 2019. Para peneliti membandingkan saudara kandung yang terpapar dan tidak terpapar asetaminofen selama dalam kandungan. Dengan metode ini, mereka dapat mengontrol faktor genetik dan lingkungan keluarga yang sulit diukur dalam studi sebelumnya.
Metodologi Ketat Menjawab Kontroversi
Penelitian sebelumnya sering kali menemukan hubungan antara paparan asetaminofen prenatal dan risiko autisme atau ADHD. Namun, hubungan tersebut bisa disebabkan oleh faktor perancu, seperti kondisi kesehatan ibu yang mendorong penggunaan obat tersebut. Studi terbaru ini mengatasi kelemahan tersebut dengan menggunakan desain saudara kandung (sibling comparison) dan analisis sensitivitas yang ekstensif.
- Analisis utama menunjukkan bahwa risiko autisme tidak berbeda secara signifikan antara anak yang terpapar dan tidak terpapar asetaminofen.
- Untuk ADHD, risiko sedikit lebih tinggi pada analisis awal, tetapi setelah disesuaikan dengan faktor perancu dan dibandingkan antar saudara, perbedaan tersebut menghilang.
- Temuan ini konsisten di berbagai subkelompok, termasuk jenis kelamin anak, usia kehamilan saat paparan, dan dosis obat.
Dr. Birgitta A. dari Karolinska Institutet, salah satu penulis studi, menyatakan, “Studi kami memberikan bukti kuat bahwa penggunaan asetaminofen dalam dosis yang dianjurkan selama kehamilan tidak meningkatkan risiko autisme atau ADHD. Ibu hamil tidak perlu merasa khawatir atau bersalah jika harus menggunakan obat ini untuk mengatasi demam atau nyeri.”
Implikasi bagi Ibu Hamil dan Tenaga Medis
Temuan ini sangat relevan karena sekitar 50–70% wanita hamil di negara maju dilaporkan menggunakan asetaminofen setidaknya sekali selama kehamilan. Demam tinggi yang tidak diobati sendiri dapat membahayakan janin, sehingga keamanan obat ini menjadi prioritas. Studi ini memberikan kepastian bahwa Konsumsi Asetaminofen Saat Hamil Tidak Picu Autisme atau ADHD pada Anak, sehingga ibu dapat fokus pada manfaat pengobatan tanpa rasa takut.
Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa obat apa pun harus digunakan secara bijak. Ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi asetaminofen dalam dosis terendah yang efektif dan dalam waktu sesingkat mungkin. Konsultasi dengan dokter kandungan tetap dianjurkan sebelum memulai pengobatan apapun, terutama jika ada kondisi medis lain.
Studi ini juga menekankan pentingnya penelitian berkualitas tinggi untuk memisahkan korelasi dari kausalitas. Dengan desain yang lebih ketat, kesimpulan bahwa Konsumsi Asetaminofen Saat Hamil Tidak Picu Autisme atau ADHD pada Anak menjadi lebih kokoh dan dapat diandalkan oleh para pembuat kebijakan kesehatan.
Kesimpulannya, penelitian ini memberikan kabar baik bagi jutaan ibu hamil yang mengandalkan parasetamol. Tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan terhadap risiko autisme atau ADHD. Namun, seperti semua obat, penggunaan harus sesuai petunjuk. Ibu hamil tetap perlu waspada dan berkonsultasi dengan tenaga medis untuk memastikan keamanan optimal bagi diri dan janin.




