Prabowo Tegaskan Kritik Itu Menyelamatkan, Namun Fitnah dan Caci Maki Tak Boleh

By

Tyas muwaffaqah

24 Juli 2026, 11:51 WIB

Prabowo Tegaskan Kritik Itu Menyelamatkan, Namun Fitnah dan Caci Maki Tak Boleh
Prabowo Tegaskan Kritik Itu Menyelamatkan, Namun Fitnah dan Caci Maki Tak Boleh

STNK.CO.ID – 24 Juli 2026 | Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan sikapnya terhadap kritik dalam sistem demokrasi Indonesia. Dalam pernyataan terbarunya, Presiden Prabowo menyatakan bahwa kritik itu menyelamatkan, tetapi fitnah dan caci maki tidak boleh dibiarkan. Pernyataan ini disampaikan di tengah maraknya diskusi publik mengenai batasan antara kritik konstruktif dan ujaran kebencian.

Baca juga:

Pentingnya Kritik dalam Demokrasi

Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa pemerintah tidak antikritik. Menurutnya, kritik yang membangun merupakan bagian penting dari proses demokrasi yang sehat. “Kritik itu menyelamatkan. Kritik membantu kita untuk memperbaiki diri dan kebijakan,” ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kritik harus disampaikan dengan data dan fakta yang jelas, bukan berdasarkan fitnah atau kebencian semata.

Pernyataan ini menjadi penting di tengah era digital di mana informasi mudah tersebar. Banyak kritik yang disampaikan melalui media sosial seringkali tidak terverifikasi dan cenderung mengandung unsur fitnah. Presiden Prabowo mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyampaikan pendapat dan membedakan antara kritik yang membangun dengan serangan pribadi.

Fitnah dan Caci Maki Merusak Persatuan

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo menegaskan bahwa fitnah dan caci maki tidak bisa dibenarkan dalam ruang publik. Ia menilai bahwa praktik semacam itu hanya akan merusak persatuan bangsa. “Jangan sampai kritik berubah menjadi fitnah dan caci maki. Itu bukan cara yang baik untuk berdemokrasi,” tegasnya.

Baca juga:

Presiden juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, termasuk musyawarah dan gotong royong. Oleh karena itu, setiap pendapat harus disampaikan dengan cara yang santun dan bertanggung jawab. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan iklim demokrasi yang lebih dewasa dan produktif.

Kritik Konstruktif sebagai Solusi

Presiden Prabowo Subianto juga menggarisbawahi bahwa kritik yang disertai solusi akan lebih bermanfaat bagi kemajuan bangsa. “Jangan hanya mengkritik, tapi berikan juga masukan yang bisa kita jalankan,” tambahnya. Dalam konteks ini, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk akademisi, aktivis, dan media, untuk berperan aktif dalam memberikan kritik yang membangun.

Pernyataan Presiden Prabowo Kritik Itu Menyelamatkan Tapi Jangan Fitnah dan Caci Maki mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Banyak yang menilai bahwa sikap ini menunjukkan kedewasaan politik dan komitmen untuk menjaga etika dalam berdemokrasi. Namun, ada pula yang mengingatkan bahwa implementasi dari pernyataan tersebut harus konsisten, terutama dalam menangani kasus-kasus ujaran kebencian di lapangan.

Baca juga:

Membangun Budaya Kritik yang Sehat

Budaya kritik yang sehat harus dibangun dari kesadaran bersama. Pemerintah, masyarakat, dan media perlu bekerja sama untuk menciptakan ruang publik yang kondusif. Edukasi tentang literasi digital dan etika berpendapat menjadi kunci utama. Dengan demikian, nilai-nilai demokrasi dapat berjalan beriringan dengan persatuan dan kesatuan bangsa.

Presiden Prabowo juga mengingatkan bahwa dalam berdemokrasi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh dijadikan alat untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, perbedaan harus dijadikan kekuatan untuk mencari solusi terbaik bagi kepentingan rakyat.

Kesimpulan

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa kritik itu menyelamatkan tetapi fitnah dan caci maki tidak boleh dibiarkan merupakan pesan penting bagi seluruh rakyat Indonesia. Demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi kritis yang bertanggung jawab. Dengan membedakan antara kritik konstruktif dan fitnah, Indonesia dapat terus maju sebagai bangsa yang demokratis dan beradab. Mari kita dukung budaya kritik yang membangun tanpa menjatuhkan martabat sesama.

Related Post