Daftar Isi
STNK.CO.ID – 19 Juli 2026 | Korban tewas bentrokan di Adonara bertambah menjadi tiga orang, sementara lima lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Peristiwa bentrokan antarwarga yang terjadi di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat setempat. Hingga berita ini diturunkan, personel gabungan dari TNI dan Polri masih disiagakan di titik-titik strategis perbatasan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perselisihan susulan.
Kronologi Bentrokan
Bentrokan yang terjadi pada Senin (13/3/2025) dipicu oleh sengketa lahan antara dua kelompok warga di Desa Waiwadan, Kecamatan Adonara Barat. Aksi saling serang dengan menggunakan senjata tajam dan batu menyebabkan sejumlah korban berjatuhan. Aparat kepolisian yang tiba di lokasi kesulitan meredam amuk massa karena medan yang sulit dijangkau. Akibatnya, bentrokan berlangsung hingga malam hari dan baru bisa dihentikan setelah bantuan pasukan Brimob dikerahkan.
Korban dan Perawatan
Korban tewas bentrokan di Adonara jadi 3 orang 5 dirawat di RSUD Lewoleba. Ketiga korban meninggal dunia akibat luka tusuk dan luka benda tumpul di kepala. Sementara lima korban luka-luka mengalami cedera ringan hingga sedang, seperti patah tulang dan luka robek. Tim medis terus berupaya memberikan perawatan optimal agar para korban dapat pulih. Kapolres Flores Timur AKBP I Nyoman Oka mengatakan bahwa korban tewas dan luka telah dievakuasi serta mendapat penanganan medis.
Upaya Pengamanan
Pasca-bentrokan, aparat keamanan meningkatkan patroli dan penjagaan di wilayah perbatasan desa yang bertikai. Pos-pos pengamanan didirikan di beberapa titik rawan untuk mencegah eskalasi konflik. Kapolda NTT Irjen Pol Johanis Asadoma menegaskan bahwa situasi saat ini sudah kondusif, namun kewaspadaan tetap ditingkatkan. “Kami tidak ingin ada lagi korban jiwa. Semua pihak harus menahan diri dan menyelesaikan masalah secara hukum,” ujarnya.
Reaksi Masyarakat
Masyarakat Adonara berduka atas kejadian ini. Sejumlah tokoh adat dan agama menyerukan dialog damai untuk menyelesaikan akar masalah. Mereka berharap agar pemerintah daerah turun tangan memfasilitasi mediasi antara kedua kelompok. “Kami sangat prihatin dengan korban tewas bentrokan di Adonara jadi 3 orang 5 dirawat. Ini peringatan bagi kita semua bahwa kekerasan tidak menyelesaikan masalah,” kata Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus.
Langkah Hukum
Polisi telah menetapkan beberapa orang sebagai tersangka pemicu bentrokan. Proses penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat. “Kami akan menindak tegas siapa pun yang terbukti melakukan kekerasan. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegas Kapolres Flores Timur. Sementara itu, korban tewas bentrokan di Adonara jadi 3 orang 5 dirawat menjadi catatan kelam dalam sejarah konflik lahan di wilayah tersebut.
Pencegahan Konflik
Pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat merancang program pencegahan konflik melalui pendekatan kearifan lokal. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali forum musyawarah adat yang selama ini vakum. Diharapkan, kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. “Korban tewas bentrokan di Adonara jadi 3 orang 5 dirawat harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” imbuh Bupati.
Kesimpulan, bentrokan di Adonara telah merenggut tiga nyawa dan melukai lima orang. Aparat keamanan terus bersiaga untuk menjaga stabilitas. Proses hukum berjalan, dan upaya rekonsiliasi sedang dirintis. Semoga kejadian ini menjadi yang terakhir dan masyarakat Adonara dapat hidup rukun kembali.




