Daftar Isi
STNK.CO.ID – 22 Juli 2026 | Hamas secara resmi menunjuk Khalil al-Hayya sebagai kepala biro politik baru, menggantikan Yahya Sinwar yang tewas dalam pertempuran dengan Israel pada Oktober 2024. Keputusan ini diumumkan pada Senin (20/7/2026) setelah melalui pemungutan suara internal yang ketat. Al-Hayya, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua Hamas, berhasil mengalahkan mantan kepala biro politik Khaled Meshaal. Kemenangan ini menandai babak baru dalam kepemimpinan kelompok perlawanan Palestina tersebut.
Proses Pemilihan dan Dukungan Internal
Pemilihan kepala biro politik Hamas dilakukan melalui mekanisme rahasia yang rumit, mengingat situasi keamanan yang sulit di Gaza. Menurut sumber internal Hamas, pemungutan suara melibatkan Dewan Syura dan anggota senior lainnya. Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, segera menyatakan dukungan penuh kepada Al-Hayya. Ia dijadwalkan meresmikan jabatannya pekan depan. Dengan terpilihnya Al-Hayya, dewan kepemimpinan sementara yang beranggotakan lima orang akan dibubarkan dan menyerahkan mandat kepada biro politik yang baru.
Profil Khalil al-Hayya: Dari Akademisi hingga Negosiator
Khalil al-Hayya lahir di Gaza pada tahun 1960 dan telah menjadi bagian dari Hamas sejak organisasi itu didirikan pada 1987. Ia meraih gelar doktor di bidang Sunah Nabi dan Ilmu Hadis dari Universitas Al-Quran Al-Karim di Sudan pada tahun 1997. Al-Hayya adalah pengikut setia pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, yang ditemuinya pada 1980-an. Karier politiknya menanjak setelah ia mewakili Hamas di Dewan Legislatif Palestina pada 2006. Sebelum terpilih sebagai kepala biro politik, ia menjabat sebagai wakil pemimpin Hamas di Gaza dan kepala Kantor Hubungan Arab dan Islam.
Al-Hayya juga dikenal sebagai negosiator utama Hamas. Ia memimpin delegasi dalam perundingan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Turki. Selama perang Gaza yang dimulai pada Oktober 2023, ia bersikeras pada penghentian serangan Israel, penarikan pasukan, dan pembukaan perlintasan bantuan. Ia juga pernah selamat dari upaya pembunuhan oleh Israel di Qatar pada tahun 2025.
Langkah Awal dan Sikap Politik
Dalam pernyataan pertamanya sebagai kepala biro politik, Al-Hayya menegaskan komitmen Hamas untuk melanjutkan perlawanan dan menuntut pembentukan negara Palestina. Ia menyatakan bahwa Hamas bersedia menyerahkan senjata jika Israel mengakhiri pendudukan. Al-Hayya juga mendorong pembentukan komite profesional independen untuk mengelola Gaza di bawah pengawasan PBB. Langkah ini menunjukkan fleksibilitas politik Hamas di tengah tekanan internasional.
Reaksi Internasional dan Dampak Regional
Pemimpin baru Hamas ini segera mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Iran dan Hizbullah menyambut baik terpilihnya Al-Hayya, sementara Israel belum memberikan pernyataan resmi. Analis menilai bahwa Al-Hayya akan mempertahankan sikap keras terhadap Israel namun tetap membuka peluang diplomasi. Terpilihnya ia juga mengakhiri masa kepemimpinan sementara yang dipimpin oleh lima anggota senior Hamas.
Dalam perundingan mendatang, Al-Hayya diperkirakan akan terus menuntut gencatan senjata permanen dan pencabutan blokade Gaza. Ia juga berkomitmen untuk memperjuangkan pembebasan tahanan Palestina sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tawanan. Dengan latar belakang akademis dan pengalaman diplomasi yang matang, Al-Hayya diharapkan membawa stabilitas internal Hamas serta memperkuat posisi tawar dalam negosiasi dengan Israel dan mediator internasional.
Keputusan ini menjadi sorotan global karena menandai perubahan penting dalam struktur kepemimpinan Hamas. Selama lebih dari dua dekade, Al-Hayya telah membuktikan diri sebagai tokoh kunci yang mampu menjembatani kepentingan politik dan militer. Kini, dengan posisi puncak, ia harus menghadapi tantangan besar: mengelola konflik berkepanjangan, krisis kemanusiaan di Gaza, serta tekanan internasional untuk melakukan rekonsiliasi dengan faksi Palestina lainnya.




