Kemarau Panjang di Sukabumi Meluas, BPBD Lakukan 11 Kali Distribusi Air Bersih

By

Gonzalo Bariz Asentzio

23 Juli 2026, 21:50 WIB

Kemarau Panjang di Sukabumi Meluas, BPBD Lakukan 11 Kali Distribusi Air Bersih
Kemarau Panjang di Sukabumi Meluas, BPBD Lakukan 11 Kali Distribusi Air Bersih

STNK.CO.ID – 23 Juli 2026 | Dampak Kemarau Panjang di Sukabumi Meluas Kekeringan dan 11 Kali distribusi bantuan air bersih telah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Kondisi ini memprihatinkan karena ribuan warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca juga:

Wilayah Terdampak

Kekeringan akibat kemarau panjang melanda sejumlah kecamatan di Sukabumi. Berdasarkan data BPBD, terdapat 11 kecamatan yang paling parah terkena dampak, yaitu:

  • Kecamatan Gegerbitung
  • Kecamatan Sagaranten
  • Kecamatan Curugkembar
  • Kecamatan Cidolog
  • Kecamatan Cimanggu
  • Kecamatan Surade
  • Kecamatan Jampang Kulon
  • Kecamatan Cisolok
  • Kecamatan Kalibunder
  • Kecamatan Tegalbuleud
  • Kecamatan Simpenan

Di setiap kecamatan, ribuan warga bergantung pada droping air bersih dari BPBD dan pemerintah daerah.

Upaya Penanganan

BPBD Sukabumi telah melakukan 11 kali pendistribusian bantuan air bersih ke lokasi-lokasi yang membutuhkan. Setiap droping melayani hingga ratusan keluarga. Bantuan ini sangat membantu, namun belum mencukupi karena kebutuhan air terus meningkat seiring meluasnya kekeringan.

Kepala BPBD Sukabumi, Budi Suherman, menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memperluas jangkauan bantuan. ‘Kami berupaya memenuhi kebutuhan dasar warga, terutama air bersih dan pangan,’ ujarnya.

Baca juga:

Dampak Kemarau Panjang di Sukabumi Meluas Kekeringan dan 11 Kali distribusi ini menjadi perhatian serius pemerintah. Selain droping air, pemerintah juga menyiapkan sumur bor dan pompa air untuk daerah yang masih memiliki sumber air tanah.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Kekeringan tidak hanya mengganggu pasokan air minum, tetapi juga sektor pertanian. Banyak petani gagal panen karena sawah dan ladang mengering. Harga pangan lokal mulai merangkak naik. Warga terpaksa membeli air bersih dengan harga tinggi dari penjual air keliling.

Kesehatan warga juga terancam. Beberapa kasus diare dan penyakit kulit dilaporkan meningkat akibat penggunaan air yang kurang bersih. Puskesmas setempat mengimbau warga untuk menjaga kebersihan dan mengolah air dengan benar.

Harapan Akan Hujan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan akan tiba pada bulan November mendatang. Namun, hingga saat itu, warga masih harus menghadapi dampak Kemarau Panjang di Sukabumi Meluas Kekeringan dan 11 Kali distribusi air berulang.

Baca juga:

BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan melaporkan jika ada wilayah yang belum terjangkau bantuan. Koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk mengurangi beban warga.

Kondisi ini menjadi pengingat akan pentingnya adaptasi perubahan iklim dan penyediaan infrastruktur air yang memadai di daerah rawan kekeringan.

Dengan demikian, dampak Kemarau Panjang di Sukabumi Meluas Kekeringan dan 11 Kali distribusi air bersih menjadi bukti nyata bahwa bencana hidrometeorologi semakin sering terjadi. Diperlukan langkah antisipatif yang lebih masif agar warga tidak terus bergantung pada bantuan darurat setiap tahun.

Related Post