Keluhan Warga Bangka Belitung: Antrean Pertalite Mengular dan Praktik Pengerit Merajalela

By

Rosmana Kaileena Kaileena

16 Juli 2026, 11:51 WIB

Keluhan Warga Bangka Belitung: Antrean Pertalite Mengular dan Praktik Pengerit Merajalela
Keluhan Warga Bangka Belitung: Antrean Pertalite Mengular dan Praktik Pengerit Merajalela

STNK.CO.ID – 16 Juli 2026 | Warga Bangka Belitung keluhkan antrean panjang Pertalite dan maraknya pengerit BBM yang membuat akses bahan bakar semakin sulit. Fenomena ini terjadi di sejumlah SPBU di Pulau Bangka dan Belitung, memicu keresahan di kalangan masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk aktivitas sehari-hari.

Baca juga:

Antrean Panjang Setiap Hari

Sejak beberapa pekan terakhir, warga Bangka Belitung harus bersabar mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan Pertalite. Banyak SPBU yang membatasi penjualan dengan sistem ganjil-genap atau membatasi pembelian per kendaraan. Akibatnya, antrean mengular hingga ratusan meter, tak jarang menimbulkan kemacetan di sekitar lokasi SPBU. Seorang warga Pangkalpinang, Andi, mengaku harus datang sebelum subuh agar bisa mendapatkan BBM. “Kalau datang jam enam pagi, sudah banyak yang antre. Kadang malah habis sebelum giliran saya,” ujarnya.

Maraknya Praktik Pengerit BBM

Selain antrean, keluhan utama adalah keberadaan pengerit BBM — orang yang membeli Pertalite secara berulang menggunakan beberapa kendaraan atau jeriken, lalu menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi. Praktik ini semakin marak karena selisih harga antara Pertalite dan BBM nonsubsidi. “Mereka beli pakai mobil atau motor beberapa kali, terus jual lagi ke pengecer. Harga bisa naik Rp2.000 sampai Rp3.000 per liter,” keluh seorang pengendara di Sungailiat. Pengerit sering beraksi pada malam hari atau di SPBU yang pengawasannya longgar.

Baca juga:

Dampak bagi Masyarakat

Akibat antrean panjang dan ulah pengerit, warga Bangka Belitung keluhkan antrean panjang Pertalite dan maraknya pengerit BBM membuat mobilitas terganggu. Para sopir angkutan umum dan ojek online mengaku kehilangan pendapatan karena waktu terbuang sia-sia. “Saya bisa tiga kali bolak-balik ke SPBU, tetap enggak dapet. Kadang beli di pengecer dengan harga mahal,” tutur Junaidi, sopir angkot di Tanjungpandan. Situasi ini juga memicu kekhawatiran akan kelangkaan BBM jika tidak segera ditangani.

Penyebab dan Upaya Penanganan

Beberapa pengamat menduga lonjakan permintaan terjadi karena pembatasan distribusi subsidi di daerah lain, serta momen liburan yang meningkatkan mobilitas. Pemerintah daerah setempat telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk menambah pasokan dan mengawasi SPBU. Namun, pengawasan terhadap pengerit masih lemah karena sulitnya menjerat pelaku. Hingga saat ini, belum ada sanksi tegas bagi pengerit BBM bersubsidi.

Baca juga:

Warga Bangka Belitung keluhkan antrean panjang Pertalite dan maraknya pengerit BBM telah menjadi isu sehari-hari. Masyarakat berharap ada solusi jangka pendek seperti penambahan SPBU atau relaksasi sistem pembelian, serta penindakan hukum terhadap pengerit agar BBM bersubsidi tepat sasaran. Ke depannya, perlu ada sosialisasi dan pengawasan lebih ketat agar keluhan ini cepat teratasi.

Related Post