Daftar Isi
STNK.CO.ID – 18 Juli 2026 | Jakarta, 13 Juli 2026 – Pemerintah Australia dan Indonesia secara resmi meluncurkan program Katalis 2.0, fase kedua dari inisiatif kerja sama ekonomi di bawah Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA). Peluncuran ini dilakukan oleh Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Matt Thistlethwaite, bersama Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri, di Raffles Jakarta. Program baru ini mendapat komitmen pendanaan sebesar AUD 40 juta dari Australia, yang akan digunakan untuk memperluas peluang investasi, perdagangan, dan kolaborasi bisnis antara kedua negara.
Latar Belakang dan Tujuan Katalis 2.0
Katalis 2.0 merupakan kelanjutan dari Katalis 1.0 yang berjalan pada 2021–2025. Program ini dirancang untuk memperkuat implementasi IA-CEPA melalui kolaborasi praktis antara pemerintah, pelaku industri, dan berbagai lembaga ekonomi. Thistlethwaite menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu mitra ekonomi terdekat Australia, dan bersama-sama mereka ingin menciptakan lebih banyak peluang bagi dunia usaha, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mewujudkan kemakmuran bersama.
Wamendag Roro menambahkan bahwa Indonesia berkomitmen untuk memperluas peluang perdagangan dan investasi yang memperkuat daya saing industri nasional. Program Katalis 2.0 diharapkan dapat mendorong partisipasi yang lebih luas, termasuk bagi perempuan dan kelompok yang kurang terwakili, serta mendukung prioritas nasional Indonesia.
Pendanaan dan Fokus Sektor
Australia mengalokasikan dana sebesar AUD 40 juta untuk Katalis 2.0, yang akan difokuskan pada perluasan berbagai inisiatif yang telah terbukti berhasil pada fase sebelumnya. Beberapa sektor strategis yang menjadi prioritas meliputi agripangan, layanan kesehatan, ekonomi digital, pariwisata, manufaktur maju, hingga ekonomi hijau. Selain itu, program ini juga akan memperkuat institusi-institusi penting dan mendorong inovasi.
Thistlethwaite mencontohkan keberhasilan Katalis 1.0, seperti usaha kecil milik pengusaha perempuan Indonesia yang berhasil mengekspor kakao ke pasar cokelat premium Australia. Contoh lainnya adalah kerja sama pendidikan dengan University of New England, di mana perawat Indonesia memperoleh pelatihan secara daring dan kini bekerja di sektor kesehatan lansia Australia. Keberhasilan ini menjadi fondasi untuk memperluas cakupan program.
Dampak pada Perdagangan Kakao dan Cokelat
Salah satu sektor yang mendapat sorotan dalam peluncuran Katalis 2.0 adalah perdagangan kakao dan cokelat. Australia, yang hampir tidak memproduksi kakao sendiri, mengimpor biji kakao, cocoa butter, dan cocoa paste dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Rata-rata masyarakat Australia mengonsumsi sekitar 6 kilogram cokelat per tahun, dengan total konsumsi mencapai 160 ribu ton per tahun. Thistlethwaite menyatakan Australia terbuka untuk meningkatkan impor kakao dan produk turunannya dari Indonesia.
Sementara itu, Wamendag Roro menegaskan bahwa Indonesia kini tidak hanya mengekspor bahan baku kakao, tetapi juga telah mampu menghasilkan produk cokelat premium melalui proses hilirisasi. Hal ini membuka peluang besar bagi ekspor ke Australia, yang merupakan salah satu produsen kakao terbesar keenam di dunia.
Perkembangan Perdagangan Bilateral Sejak IA-CEPA
Sejak IA-CEPA mulai berlaku pada 5 Juli 2020, hubungan ekonomi Indonesia dan Australia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Nilai perdagangan kedua negara meningkat dari USD 7,2 miliar pada tahun 2020 menjadi sekitar USD 13 miliar pada tahun 2025, dengan pertumbuhan rata-rata 10,68 persen per tahun. Pada tahun 2024, nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar 35,4 miliar dolar Australia.
Wamendag Roro menekankan bahwa tren positif ini menjadi landasan kuat untuk memperkuat implementasi IA-CEPA melalui Katalis 2.0. Program ini diharapkan dapat mengubah peluang yang diciptakan oleh perjanjian tersebut menjadi manfaat ekonomi nyata bagi dunia usaha, tenaga kerja, dan masyarakat di kedua negara.
Keberhasilan Katalis 1.0 sebagai Fondasi
Katalis 1.0 yang berlangsung selama lima tahun telah berhasil memperluas akses pasar, mendorong kemitraan bisnis berkelanjutan, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, memfasilitasi dialog kebijakan, serta memperluas kerja sama di berbagai sektor. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kerja sama ekonomi yang dirancang dengan baik mampu menjembatani kebijakan dan implementasi.
Deputi Bidang Pengembangan Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, Eka Chandra Buana, menyatakan bahwa kemitraan internasional yang kuat memiliki peran penting dalam mendukung agenda pembangunan jangka panjang Indonesia. Kolaborasi yang memperkuat institusi, mendorong inovasi, dan memobilisasi investasi akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan tangguh.
Kesimpulan
Peluncuran Katalis 2.0 menandai babak baru dalam hubungan ekonomi Indonesia-Australia. Dengan pendanaan AUD 40 juta dan fokus pada sektor-sektor strategis, program ini diharapkan mampu memperkuat perdagangan dan investasi bilateral, serta menciptakan kemakmuran bersama. Dukungan terhadap sektor kakao dan cokelat menjadi salah satu contoh nyata bagaimana Katalis 2.0 dapat membuka peluang baru bagi pelaku usaha, terutama dari Indonesia. Komitmen kedua negara untuk terus berkolaborasi menunjukkan bahwa IA-CEPA bukan sekadar perjanjian, melainkan instrumen nyata untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.




