Kartu Merah Rattin 1966: Akar Rivalitas Panas Argentina vs Inggris Kembali Mencuat di Semifinal Piala Dunia 2026

By

Rosmana Kaileena Kaileena

18 Juli 2026, 09:40 WIB

Kartu Merah Rattin 1966: Akar Rivalitas Panas Argentina vs Inggris Kembali Mencuat di Semifinal Piala Dunia 2026
Kartu Merah Rattin 1966: Akar Rivalitas Panas Argentina vs Inggris Kembali Mencuat di Semifinal Piala Dunia 2026

STNK.CO.ID – 18 Juli 2026 | Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris di Atlanta bukan sekadar laga sepak bola biasa. Ini adalah babak terbaru dari rivalitas panjang yang berakar pada insiden kartu merah Antonio Rattin pada 1966, yang hingga kini masih membara. Di Stadion Atlanta, Selasa malam, kedua tim akan memperebutkan tiket final melawan Spanyol, namun di balik itu, sejarah kelam dan kebanggaan nasional ikut dipertaruhkan.

Baca juga:

Semifinal Penuh Sejarah

Pertemuan ini menjadi yang pertama bagi Argentina dan Inggris di Piala Dunia sejak 1998, dan keenam secara keseluruhan. Keduanya sama-sama haus gelar: Inggris belum pernah mencapai final sejak 1966, sementara Argentina ingin mengulang kejayaan 1986 dan 2022. Pelatih Inggris Thomas Tuchel menyebut laga ini sebagai ‘pertandingan terbesar sejak 1966’, mengingat beban sejarah yang menyertainya. Di sisi lain, Argentina datang dengan skuad bertabur bintang dan ambisi mempertahankan status raja sepak bola dunia.

Insiden yang Membara: Kartu Merah Antonio Rattin

Semua bermula pada 23 Juli 1966, di Wembley. Saat itu, Argentina yang belum terkalahkan bertemu tuan rumah Inggris di perempat final. Wasit asal Jerman Barat, Rudolf Kreitlein, mengeluarkan kartu merah untuk kapten Argentina, Antonio Rattin, pada menit ke-36 karena dianggap ‘kekerasan lidah’—padahal Kreitlein tidak bisa berbahasa Spanyol. Rattin, yang dijuluki ‘El Caudillo’, menolak meninggalkan lapangan selama delapan menit, merobek sudut bendera Inggris, dan duduk di karpet merah yang disediakan untuk Ratu Elizabeth. Kejadian itu memicu kemarahan besar di Argentina, yang hingga kini menganggap kekalahan 0-1 sebagai ‘perampokan’. Pelatih Inggris Alf Ramsey bahkan menyebut pemain Argentina sebagai ‘binatang’ dan melarang pemainnya bertukar jersey usai laga. Insiden ini menjadi bibit dendam yang tak pernah padam.

Dari ‘Animal’ hingga ‘Hand of God’

Dua dekade kemudian, di Piala Dunia 1986, Argentina membalas dengan cara spektakuler. Empat tahun setelah Perang Falklands, pertemuan di perempat final menjadi ajang pembalasan simbolis. Diego Maradona mencetak dua gol: pertama lewat ‘Tangan Tuhan’ yang kontroversial, lalu satu gol luar biasa yang disebut ‘Gol Abad Ini’. Maradona sendiri kemudian berkata, ‘Itu semacam balas dendam simbolis terhadap Inggris.’ Fotografer Gary Hershorn yang meliput momen itu mengaku menyesal tidak mengabadikan ‘Hand of God’ karena berada di sisi yang salah. Sementara itu, jurnalis Rex Gowar yang menyaksikan dari tribun menjadi orang pertama yang menyebarkan kutipan Maradona: ‘Sedikit dengan kepala Maradona, sedikit dengan tangan Tuhan.’

Baca juga:

Puncak Ketegangan di Prancis 1998

Pertemuan berikutnya di Piala Dunia 1998 kembali menyajikan drama. David Beckham dikeluarkan dari lapangan setelah menendang Diego Simeone, dan Inggris kalah adu penalti. Insiden itu membuat Beckham menjadi target kebencian di Inggris selama bertahun-tahun. Kini, di Atlanta, generasi baru pemain seperti Erling Haaland dari Norwegia—yang bukan bagian dari rivalitas ini—justru menjadi simbol estafet bintang global, namun dendam lama masih terasa.

Warisan Rivalitas yang Tak Pernah Redup

Menjelang laga, suasana di Atlanta memanas. Pendukung kedua negara saling ejek, dan media Argentina kembali mengangkat isu ‘ketidakadilan 1966’. Antonio Rattin sendiri meninggal pada usia 89 tahun pada tahun lalu, namun semangatnya hidup dalam setiap duel Argentina vs Inggris. Dalam wawancara terakhirnya, Rattin menegaskan bahwa ia tidak menghina wasit, hanya meminta penjelasan atas keputusan yang dianggapnya berat sebelah. ‘Semua keputusan menguntungkan Inggris… tendangan pojok, pelanggaran, bahkan tangan bola pun diciptakan,’ ujarnya. Wasit Kreitlein, yang sudah tiada, pernah berkata, ‘Saya bisa melihat dari wajahnya apa yang ia katakan.’ Ketegangan itu kini diwariskan ke generasi baru.

Menuju Final di MetLife Stadium

Pertandingan ini juga menjadi panggung bagi pemain bintang seperti Lionel Messi dan Kylian Mbappe (jika dalam skenario berbeda), namun yang pasti, pemenangnya akan menghadapi Spanyol di final di MetLife Stadium, New Jersey. Spanyol sendiri tampil mengesankan dengan mengalahkan Prancis 2-0 di semifinal sebelumnya. Bagi Inggris, ini adalah kesempatan emas untuk mengakhiri puasa gelar 60 tahun. Bagi Argentina, ini adalah langkah menuju mahkota dunia ketiga. Namun, di luar trofi, ada harga diri yang dipertaruhkan—sebuah luka lama yang berusaha disembuhkan atau justru diperparah.

Baca juga:

Terlepas dari hasil akhir, satu hal pasti: rivalitas Argentina vs Inggris akan terus menjadi salah satu narasi paling menarik dalam sejarah Piala Dunia. Dan di tengah semua itu, nama Antonio Rattin tetap terukir sebagai pemicu awal dari api yang tak kunjung padam.

Related Post