Irak Jadi Panggung Prosesi Pemakaman Khamenei dan Operasi Antikorupsi Besar-besaran

By

Reshawnda Morgance

4 Juli 2026, 19:19 WIB

Irak Jadi Panggung Prosesi Pemakaman Khamenei dan Operasi Antikorupsi Besar-besaran
Irak Jadi Panggung Prosesi Pemakaman Khamenei dan Operasi Antikorupsi Besar-besaran

STNK.CO.ID – 04 Juli 2026 | Irak menjadi pusat perhatian dalam beberapa pekan terakhir, tidak hanya sebagai salah satu negara yang dilalui prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, tetapi juga karena operasi antikorupsi besar-besaran yang dilakukan pemerintah Irak. Dua peristiwa ini menunjukkan dinamika politik yang kompleks di Timur Tengah, di mana Irak berada di persimpangan pengaruh antara Iran dan Amerika Serikat.

Baca juga:

Prosesi Pemakaman Khamenei Singgah di Irak

Rangkaian pemakaman Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, memasuki hari keenam pada 8 Juli dengan singgah di Irak. Jenazah Khamenei dibawa ke tiga kota suci Syiah di Irak, yaitu Baghdad, Najaf, dan Karbala. Ribuan pelayat menyambut kedatangan jenazah di setiap kota, menunjukkan besarnya pengaruh Iran di kalangan umat Syiah Irak.

Prosesi di Irak merupakan bagian dari rencana tujuh hari yang mencakup enam kota di dua negara. Sebelumnya, jenazah telah mendapat penghormatan di Teheran dan Qom. Pemakaman terakhir dijadwalkan pada 9 Juli di Kompleks Makam Imam Ali Reza di Mashhad, Iran. Kehadiran para pemimpin Irak, termasuk Presiden Nizar Amidi dan Ketua Parlemen Mohammed al-Halbousi, dalam upacara di Teheran menunjukkan solidaritas tinggi antara kedua negara.

Pertemuan Diplomatik di Tengah Duka

Di sela-sela prosesi pemakaman, Iran menggelar pertemuan terpisah dengan sejumlah negara, termasuk Irak, Rusia, China, dan Pakistan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertemu dengan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev, sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi melakukan diskusi dengan delegasi Irak. Pertemuan ini membahas percepatan kerja sama ekonomi dan energi, serta menyoroti proyek Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan.

Irak, sebagai negara tetangga yang memiliki hubungan erat dengan Iran, menjadi mitra kunci dalam menjaga stabilitas kawasan. Dukungan Irak terhadap Iran pasca serangan AS-Israel semakin memperkuat poros perlawanan di Timur Tengah. Namun, di saat yang sama, Irak juga berupaya menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat, yang memiliki kepentingan strategis di negara tersebut.

Baca juga:

Operasi Antikorupsi Besar-besaran di Irak

Pemerintah Irak di bawah Perdana Menteri Ali al-Zaidi melancarkan operasi antikorupsi besar-besaran yang dimulai pada 28 Juni 2026. Operasi yang dipimpin oleh Dinas Kontra Terorisme dan Unit Operasi Khusus ini menggerebek Zona Hijau Baghdad serta provinsi Wasit, Kirkuk, dan Anbar. Sejauh ini, puluhan pejabat tinggi, termasuk anggota parlemen aktif dan mantan menteri, telah ditangkap.

Penangkapan ini mengungkap jaringan korupsi yang melibatkan penyelundupan dolar dan minyak Iran, serta pendanaan faksi bersenjata. Pengakuan mantan Wakil Menteri Minyak Adnan al-Jumaili membuka pintu investigasi lebih luas. Aset senilai miliaran dinar dan jutaan dolar AS disita, termasuk emas dan properti mewah. Pemerintah Irak bahkan menyiapkan daftar buron untuk diekstradisi melalui Interpol.

Dampak Operasi Antikorupsi terhadap Hubungan Irak-Iran

Operasi antikorupsi ini berlangsung tepat saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berkunjung ke Baghdad. Meskipun tidak secara langsung menarget kepentingan Iran, langkah ini menunjukkan tekad Irak untuk membersihkan institusi publik dari praktik korupsi yang selama ini menguntungkan jaringan pro-Iran. Perdana Menteri al-Zaidi yang didukung oleh Amerika Serikat berharap operasi ini dapat menarik investasi Washington untuk memulihkan ekonomi Irak.

Namun, hubungan Irak dengan Iran tetap kuat, terbukti dari partisipasi Irak dalam pemakaman Khamenei. Irak harus menyeimbangkan kepentingan antara dua kekuatan besar yang kerap berseberangan. Operasi antikorupsi ini mungkin menjadi sinyal bahwa Irak ingin lebih mandiri dan mengurangi pengaruh asing, termasuk dari Iran.

Baca juga:

Konteks Geopolitik dan Implikasi Regional

Kematian Khamenei dan perang singkat antara Iran dengan AS-Israel telah mengubah peta geopolitik kawasan. Irak, yang menjadi medan pertempuran proxy selama bertahun-tahun, kini menghadapi tekanan untuk memilih pihak. Di satu sisi, Irak membutuhkan dukungan ekonomi dari AS, namun di sisi lain, hubungan historis dan keagamaan dengan Iran sangat kuat.

Operasi antikorupsi yang menyasar pejabat yang terkait dengan Iran bisa menjadi langkah berani Irak untuk menegaskan kedaulatannya. Namun, risiko retaknya hubungan dengan Teheran tetap ada. Dalam waktu dekat, Irak akan menjadi barometer stabilitas Timur Tengah, terutama dengan rencana kunjungan Perdana Menteri al-Zaidi ke Washington.

Kesimpulan

Irak berada di pusaran dua peristiwa besar: prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran yang menunjukkan kedekatan kedua negara, dan operasi antikorupsi domestik yang berpotensi menggeser keseimbangan kekuatan. Kedua peristiwa ini saling terkait, mencerminkan kompleksitas politik Irak yang harus menjembatani kepentingan Iran dan AS. Masa depan Irak akan ditentukan oleh kemampuannya mengelola hubungan ini sambil memberantas korupsi yang menggerogoti negara.

Related Post