Daftar Isi
STNK.CO.ID – 13 Juli 2026 | Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali mengguncang dunia sepak bola dengan wacana terbarunya. Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan banyak pihak, Infantino gulirkan wacana Piala Dunia 2030 diikuti 64 tim, menggandakan jumlah peserta dari format saat ini. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memberikan kesempatan lebih luas bagi negara-negara yang selama ini hanya bisa bermimpi tampil di ajang sepak bola terbesar di dunia.
Latar Belakang Wacana
Gagasan untuk memperluas Piala Dunia menjadi 64 tim sebenarnya sudah pernah muncul sebelumnya. Namun, baru kali ini pernyataan resmi dari Presiden FIFA mengemuka. Menurut Infantino, semakin banyak negara yang layak mendapat kesempatan untuk mewujudkan mimpi tampil di ajang sepak bola internasional tertinggi. Ia menekankan bahwa sepak bola adalah olahraga global yang harus inklusif.
Dampak Potensial bagi Sepak Bola Dunia
Jika wacana ini terwujud, Piala Dunia 2030 akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah. Peserta sebanyak 64 tim berarti akan ada lebih banyak pertandingan, durasi turnamen yang lebih panjang, dan tentu saja tantangan logistik yang lebih besar. Beberapa pihak khawatir kualitas pertandingan akan menurun karena banyak tim lemah ikut serta. Namun, pendukung wacana berargumen bahwa justru hal ini akan mendorong perkembangan sepak bola di negara-negara kecil.
Peluang bagi Negara Berkembang
Bagi negara-negara seperti Indonesia, wacana ini bisa menjadi angin segar. Dengan jumlah peserta yang lebih banyak, peluang untuk lolos kualifikasi semakin terbuka. Tim-tim dari Afrika, Asia, dan Oseania yang selama ini kesulitan bersaing di zonal mereka mungkin mendapat tambahan jatah tiket. Infantino gulirkan wacana Piala Dunia 2030 diikuti 64 tim sebagai bagian dari visi FIFA untuk mempopulerkan sepak bola ke seluruh penjuru dunia.
Tantangan Logistik dan Finansial
Namun, rencana ini tidak lepas dari kritik. Penyelenggaraan Piala Dunia dengan 64 tim akan membutuhkan stadion, akomodasi, dan transportasi yang jauh lebih banyak. Negara tuan rumah, yang akan ditentukan kemudian, harus siap dengan infrastruktur yang memadai. Selain itu, durasi turnamen yang bisa melebihi 40 hari berpotensi membuat pemain kelelahan. Meski begitu, Infantino tampak optimis. Ia menyebut bahwa format 48 tim yang akan diterapkan mulai 2026 juga sempat dianggap mustahil, tetapi kini sudah menjadi kenyataan.
Respons dari Berbagai Pihak
Wacana ini langsung menuai reaksi beragam. Beberapa federasi sepak bola nasional menyambut positif, sementara klub-klub Eropa khawatir akan bentrok jadwal dengan kompetisi domestik. Kalangan pengamat menilai bahwa langkah ini adalah strategi politik Infantino untuk memperkuat posisinya di FIFA menjelang pemilihan presiden berikutnya. Meski demikian, yang pasti, diskusi mengenai jumlah peserta Piala Dunia 2030 masih akan terus berlanjut.
Kesempatan Bersejarah atau Bumerang?
Belum jelas apakah wacana ini akan disetujui dalam Kongres FIFA. Namun, jika terwujud, Piala Dunia 2030 tidak hanya akan menjadi ajang olahraga, tetapi juga simbol inklusivitas. Bagi negara-negara kecil, ini adalah kesempatan bersejarah untuk bersaing di panggung global. Sebaliknya, bagi kritikus, ini bisa menjadi bumerang yang menurunkan kualitas turnamen. Yang jelas, Infantino gulirkan wacana Piala Dunia 2030 diikuti 64 tim membuat kita semua menantikan keputusan selanjutnya.
Dengan segala pro dan kontra, satu hal yang pasti: dunia sepak bola tidak akan pernah berhenti berubah. Wacana ini membuka diskusi tentang masa depan olahraga paling populer di dunia. Apakah akan ada 64 tim pada 2030? Hanya waktu yang bisa menjawab.




