Daftar Isi
STNK.CO.ID – 17 Juli 2026 | Sempat Diberangus Ikan Sapu-Sapu Dimanfaatkan dan Diterliti. Populasi ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap sebagai hama di perairan Jakarta kini mulai dialihfungsikan menjadi sumber daya yang bernilai. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, melalui Dinas Lingkungan Hidup, menginstruksikan operasi pengendalian populasi ikan invasif ini, namun tidak hanya dengan pemberangusan, melainkan juga dengan pemanfaatan dan penelitian.
Latar Belakang Ekologis
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) dikenal sebagai spesies invasif yang merusak ekosistem perairan. Ikan ini mampu bertahan di kondisi air buruk, berkembang biak cepat, dan memangsa telur ikan lokal. Sejak beberapa tahun terakhir, Pemprov DKI Jakarta gencar melakukan pemberangusan massal di sungai dan waduk. Namun, upaya itu dinilai kurang efektif karena populasinya terus meningkat.
Langkah Baru: Pemanfaatan dan Riset
Betty, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, mengatakan bahwa operasi terkini merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Pramono Anung untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di perairan ibu kota. “Kami tidak hanya memberangus, tetapi juga mendorong pemanfaatan dan penelitian terhadap ikan ini,” ujar Betty. Langkah ini diharapkan memberikan solusi berkelanjutan.
Ikan sapu-sapu yang terkumpul kini diolah menjadi tepung ikan untuk pakan ternak, pupuk organik, bahkan bahan baku kosmetik. Beberapa perguruan tinggi juga mulai meneliti potensi medis dari lendir ikan sapu-sapu yang mengandung senyawa antimikroba. Penelitian ini sejalan dengan program ekonomi sirkular yang digagas pemerintah.
Dampak bagi Masyarakat dan Lingkungan
Pemanfaatan ikan sapu-sapu memberikan dampak positif berganda. Selain mengurangi populasi hama, masyarakat sekitar perairan mendapatkan sumber penghasilan tambahan dari penangkapan dan pengolahan ikan. Namun, Betty mengingatkan bahwa pemanfaatan harus tetap memperhatikan aspek keamanan pangan dan lingkungan. “Kami mengawasi ketat agar tidak menimbulkan masalah baru,” tegasnya.
Di sisi lain, para peneliti dari Universitas Indonesia dan IPB University tengah mengkaji efektivitas metode pengendalian hayati untuk menekan populasi ikan sapu-sapu di alam liar. Hasil awal menunjukkan bahwa pemangsaan alami oleh ikan predator lokal cukup efektif jika dikombinasikan dengan pemanfaatan massal.
Sempat Diberangus Ikan Sapu-Sapu Dimanfaatkan dan Diterliti menjadi bukti bahwa pendekatan adaptif dapat mengubah masalah menjadi peluang. Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, ekosistem perairan Jakarta diharapkan pulih seiring berkurangnya tekanan dari spesies invasif. Ke depan, Pemprov DKI berencana memperluas program ini ke seluruh wilayah sungai dan danau di Jakarta.
Kesimpulannya, transformasi pengelolaan ikan sapu-sapu dari pemberangusan menjadi pemanfaatan dan penelitian merupakan langkah maju yang patut diapresiasi. Inovasi ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Dengan dukungan semua pihak, Sempat Diberangus Ikan Sapu-Sapu Dimanfaatkan dan Diterliti dapat menjadi model bagi daerah lain dalam menangani spesies invasif secara berkelanjutan.




