Antonio Rattin Meninggal Karena Kontroversi Usirannya di Piala Dunia 1966 Memicu Rivalitas Abadi Inggris vs Argentina

By

Rohana Margery Hortensia

21 Juli 2026, 05:38 WIB

Antonio Rattin Meninggal Karena Kontroversi Usirannya di Piala Dunia 1966 Memicu Rivalitas Abadi Inggris vs Argentina
Antonio Rattin Meninggal Karena Kontroversi Usirannya di Piala Dunia 1966 Memicu Rivalitas Abadi Inggris vs Argentina

STNK.CO.ID – 21 Juli 2026 | Antonio Rattin, kapten legendaris Argentina yang dikenal karena kontroversi usirannya di Piala Dunia 1966, meninggal karena faktor usia pada tahun 2019. Namun, warisannya sebagai tokoh sentral dalam rivalitas sengit antara Inggris dan Argentina tetap hidup hingga hari ini. Duel kedua tim yang akan kembali tersaji di semifinal Piala Dunia 2026 pada Kamis, 16 Juli 2026, di Atlanta Stadium, menjadi pengingat akan akar perseteruan yang bermula enam dekade lalu.

Baca juga:

Kronologi ‘El Robo’ di Piala Dunia 1966

Pertemuan Inggris dan Argentina di perempat final Piala Dunia 1966 menjadi titik awal rivalitas yang melampaui sepak bola. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Wembley itu dimenangkan Inggris dengan skor tipis 1-0 berkat gol Geoff Hurst. Namun, Argentina merasa dirampok karena mengklaim gol tersebut offside. Ketegangan memuncak saat wasit Jerman, Rudolf Kreitlein, mengusir kapten Argentina, Antonio Rattin, dari lapangan pada menit ke-35 setelah pelanggaran keras. Rattin menolak meninggalkan lapangan selama beberapa menit, memicu protes dan kekacauan.

Antonio Rattin meninggal karena usianya yang sudah lanjut pada 2019, tetapi kenangan akan momen itu terus membara. Pelatih Inggris saat itu, Sir Alf Ramsey, kemudian menyebut Argentina sebagai ‘binatang’ karena dianggap bermain kasar dan tidak sportif. Pernyataan itu memicu kemarahan besar di Argentina dan memperkeruh hubungan kedua negara.

Dampak pada Sepak Bola Dunia

Insiden usiran Antonio Rattin menjadi salah satu faktor yang mendorong FIFA untuk memperkenalkan sistem kartu kuning dan kartu merah pada Piala Dunia berikutnya. Tanpa kartu, wasit saat itu hanya mengandalkan peringatan lisan. Kejadian ini menunjukkan perlunya standarisasi sanksi di lapangan. Antonio Rattin meninggal karena usia tua, namun kontribusinya dalam sejarah sepak bola tetap dikenang.

Baca juga:

Rivalitas Inggris vs Argentina tidak berhenti di situ. Dua puluh tahun kemudian, pada Piala Dunia 1986, perempat final mempertemukan kedua tim lagi, hanya dua tahun setelah Perang Falklands. Gol ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona dan gol solo yang brilian menambah lapisan ketegangan. Pada 1998, kartu merah David Beckham semakin memperkuat narasi permusuhan.

Pertemuan Kembali di Piala Dunia 2026

Kini, di semifinal Piala Dunia 2026, Inggris dan Argentina akan bertemu lagi. Banyak yang memprediksi laga ini akan lebih sengit dari semifinal lainnya. Timnas Inggris dikenal kompak dan solid, sementara Argentina mengandalkan Lionel Messi dan kolektifitas tim. Antonio Rattin meninggal karena usia, tetapi semangat juang yang ia tunjukkan dulu masih terasa dalam setiap duel kedua tim.

Sejak pertemuan pertama pada 1951, Inggris dan Argentina telah berhadapan 15 kali. Inggris unggul dengan enam kemenangan, Argentina dua, dan sisanya imbang. Dalam lima pertemuan Piala Dunia, Inggris menang tiga kali, Argentina dua kali. Namun, statistik tidak pernah bisa menceritakan keseluruhan drama.

Baca juga:

Kesimpulan

Antonio Rattin meninggal karena faktor alam, namun warisannya sebagai kapten yang diusir dalam pertandingan kontroversial terus menghidupkan rivalitas Inggris vs Argentina. Dari ‘El Robo’ hingga ‘Tangan Tuhan’, setiap pertemuan kedua tim selalu menghadirkan emosi dan tensi tinggi. Semifinal Piala Dunia 2026 akan menjadi babak baru dalam sejarah panjang rivalitas ini, mengingatkan kita bahwa sepak bola tidak pernah sekadar permainan.

Related Post