Antonio Rattin adalah ‘El Robo del Siglo’ yang Memicu Rivalitas Inggris vs Argentina hingga Piala Dunia 2026

By

zarifah Goldy

22 Juli 2026, 08:37 WIB

Antonio Rattin adalah 'El Robo del Siglo' yang Memicu Rivalitas Inggris vs Argentina hingga Piala Dunia 2026
Antonio Rattin adalah 'El Robo del Siglo' yang Memicu Rivalitas Inggris vs Argentina hingga Piala Dunia 2026

STNK.CO.ID – 22 Juli 2026 | Rivalitas antara Inggris dan Argentina sudah berlangsung puluhan tahun, melampaui batas lapangan hijau dan merambah ke ranah politik serta sosial. Salah satu momen paling awal dan paling kontroversial yang membentuk perseteruan ini adalah insiden yang melibatkan kapten Argentina, Antonio Rattin, pada Piala Dunia 1966. Antonio Rattin adalah figur sentral dalam apa yang oleh publik Argentina disebut sebagai ‘el robo del siglo’ atau ‘pencurian abad ini’. Peristiwa itu tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi sepak bola Argentina, tetapi juga menjadi cikal bakal lahirnya sistem kartu kuning dan merah di FIFA.

Baca juga:

Awal Mula Perseteruan: Piala Dunia 1966

Pertemuan pertama kedua tim di Piala Dunia terjadi pada 1962 di Chile, di mana Inggris menang 3-1. Namun, pertandingan yang benar-benar membakar api rivalitas adalah perempat final Piala Dunia 1966 di Wembley. Saat itu, Inggris sebagai tuan rumah berhasil menang tipis 1-0 melalui gol Geoff Hurst. Namun, kemenangan itu diwarnai kontroversi besar. Pada menit-menit awal, wasit asal Jerman Barat, Rudolf Kreitlein, mengusir Antonio Rattin dari lapangan setelah dianggap melakukan dua pelanggaran keras terhadap Bobby Charlton dan Geoff Hurst. Rattin, yang tidak mengerti bahasa Jerman, meminta penerjemah dan menolak meninggalkan lapangan selama 10 menit. Ia baru pergi setelah didampingi dua petugas polisi.

Bagi Argentina, keputusan wasit itu tidak adil. Rattin kemudian menyatakan, ‘Saya melihat wasit Jerman itu memberikan segalanya untuk Inggris… Semuanya menguntungkan tim tuan rumah. Lalu, ketika saya meminta penerjemah untuk berbicara dengannya, dia malah mengusir saya keluar.’ Insiden ini memicu kemarahan besar di Argentina dan menjadi cikal bakal narasi ‘perampokan’ yang terus hidup hingga kini.

Dampak Langsung: Lahirnya Sistem Kartu

Kebingungan akibat hambatan bahasa dalam insiden Rattin mendorong FIFA untuk memperkenalkan sistem kartu kuning dan kartu merah pada Piala Dunia 1970. Antonio Rattin adalah salah satu alasan utama mengapa wasit kini dapat memberikan sanksi visual yang universal. Dengan kata lain, Antonio Rattin adalah pionir tak terduga dalam sejarah perwasitan sepak bola modern.

Namun, dampak emosional dari insiden ini tidak berhenti di situ. Pelatih Inggris saat itu, Alf Ramsey, menyebut pemain Argentina sebagai ‘binatang’ setelah pertandingan. Ucapan itu semakin memperburuk hubungan kedua negara di luar lapangan, terutama ketika isu Perang Falklands (Malvinas) muncul beberapa tahun kemudian.

Baca juga:

Perang Falklands dan Balas Dendam Maradona

Rivalitas Inggris vs Argentina mencapai puncaknya pada Piala Dunia 1986 di Meksiko. Pertemuan di perempat final itu merupakan yang pertama setelah Perang Falklands 1982, di mana Inggris dan Argentina bertempur memperebutkan Kepulauan Malvinas. Diego Maradona, kapten Argentina, menggunakan momen itu sebagai pembalasan simbolis. Ia mencetak dua gol legendaris: ‘Tangan Tuhan’ yang kontroversial, dan gol individu terbaik sepanjang masa yang melewati enam pemain Inggris.

Maradona mengakui bahwa gol pertama adalah handball, namun ia merasa itu adalah ‘pembalasan manis’ terhadap Inggris. ‘Rasanya seperti sebuah pembalasan simbolis yang manis terhadap orang-orang Inggris,’ katanya pada 2019. Gol itu membuat Argentina menang 2-1 dan akhirnya menjadi juara dunia. Bagi Argentina, ini adalah balas dendam atas ‘el robo del siglo’ 20 tahun sebelumnya.

Kartu Merah Beckham dan Drama 1998

Rivalitas kembali memanas pada Piala Dunia 1998 di Prancis. Di babak 16 besar, David Beckham, bintang muda Inggris, mendapat kartu merah setelah menendang Diego Simeone sebagai reaksi atas provokasi. Simeone kemudian mengakui bahwa ia sengaja memprovokasi Beckham. Inggris harus bermain dengan 10 pemain dan akhirnya kalah adu penalti. Beckham menjadi kambing hitam, namun insiden ini semakin memperkuat citra Argentina sebagai tim yang ‘licik’ di mata Inggris.

Namun, Argentina juga punya sisi lain. Dalam wawancara, Simeone mengaku bahwa apa yang dilakukannya adalah hal biasa dalam sepak bola profesional untuk memenangkan pertandingan. Ini menunjukkan bahwa strategi mental dan taktis juga menjadi bagian penting dari rivalitas.

Baca juga:

Dampak Jangka Panjang dan Piala Dunia 2026

Kini, di Piala Dunia 2026, Inggris dan Argentina kembali bertemu di semifinal. Sejarah panjang penuh kontroversi kembali mencuat. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, yang pernah nyaris baku hantam dengan Beckham saat masih menjadi pemain Deportivo La Coruña, memilih bersikap diplomatis. ‘Ini hanyalah pertandingan sepak bola biasa. Saya tidak ingin mencampuradukkan hal-hal di luar lapangan,’ ujarnya.

Meski begitu, publik kedua negara masih dihantui oleh masa lalu. Antonio Rattin adalah nama yang selalu disebut ketika membahas awal rivalitas ini. Antonio Rattin adalah simbol perlawanan Argentina terhadap ketidakadilan yang dirasakan. Antonio Rattin adalah pengingat bahwa sepak bola tidak pernah sekadar olahraga, melainkan juga panggung bagi sejarah, politik, dan emosi.

Dalam pertandingan nanti, baik Inggris maupun Argentina pasti akan bermain dengan motivasi ekstra. Namun, terlepas dari siapa yang menang, rivalitas ini akan terus hidup sebagai bagian tak terpisahkan dari cerita Piala Dunia.

Kesimpulannya, Antonio Rattin adalah tokoh yang tidak hanya memicu rivalitas sengit antara Inggris dan Argentina, tetapi juga mengubah aturan sepak bola dunia. Dari insiden kecil di Wembley 1966, lahirlah sistem kartu yang kini digunakan di seluruh dunia. Dan hingga saat ini, ketika kedua tim bertemu, semangat perjuangan yang diperlihatkan Rattin masih terasa di setiap duel di lapangan.

Author Image

Related Post