Daftar Isi
STNK.CO.ID – 02 Agustus 2026 | Di Acara Doa Kebangsaan Menag Bicara Kerukunan Jadi Modal Dasar Pembangunan. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama bukan sekadar slogan, melainkan fondasi penting bagi kemajuan Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam acara doa kebangsaan yang berlangsung khidmat dan dihadiri oleh para tokoh agama dari berbagai keyakinan, serta perwakilan pemerintah dan masyarakat sipil.
Kerukunan: Fondasi Kuat Pembangunan Bangsa
Lebih lanjut, Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa kerukunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama, melainkan seluruh elemen masyarakat. Ia mengajak semua pihak untuk menjaga toleransi, menghormati perbedaan, dan memperkuat dialog antaragama. Dengan demikian, energi bangsa dapat difokuskan pada upaya menyejahterakan rakyat dan meningkatkan kualitas hidup bersama.
Kerukunan juga dinilai sebagai modal sosial yang memungkinkan pembangunan berjalan dengan partisipasi luas. Ketika masyarakat hidup rukun, rasa saling percaya akan tumbuh, kolaborasi semakin mudah, dan potensi konflik dapat diminimalkan. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan stabilitas sosial dan politik.
Apresiasi Menag kepada Tokoh Agama
Dalam kesempatan tersebut, Menag menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para tokoh agama yang selama ini konsisten merawat kerukunan di tengah masyarakat. Ia menyadari bahwa peran para pemuka agama sangat sentral dalam membangun pemahaman yang damai dan menangkal narasi intoleransi serta ekstremisme. Para tokoh agama dianggap sebagai garda terdepan dalam menyemai nilai-nilai kebaikan dan persaudaraan.
Menag juga menggarisbawahi pentingnya moderasi beragama sebagai pendekatan yang harus terus digalakkan. Dengan moderasi, umat dapat menjalankan keyakinannya dengan taat, namun tetap menghargai keyakinan orang lain. Menurutnya, moderasi bukan berarti kompromi terhadap prinsip agama, melainkan sebuah cara untuk menjaga keseimbangan antara komitmen beragama dan komitmen kebangsaan.
Doa Kebangsaan sebagai Simbol Persatuan
Acara doa kebangsaan ini menjadi simbol bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Berbagai elemen bangsa berkumpul dalam suasana kebersamaan untuk memanjatkan doa demi keselamatan dan kemajuan Indonesia. Momentum ini diharapkan dapat memperkuat ikatan emosional antarumat beragama dan menumbuhkan semangat gotong royong dalam membangun negeri.
- Meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi.
- Memperkuat jaringan kerjasama antarumat beragama.
- Mendorong partisipasi publik dalam program kerukunan.
- Menangkal paham radikal yang mengancam keharmonisan.
Menag menambahkan bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas hubungan antarwarga. Masyarakat yang rukun akan lebih mudah bekerja sama dalam menyelesaikan masalah bersama, seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan. Dengan demikian, Di Acara Doa Kebangsaan Menag Bicara Kerukunan Jadi Modal Dasar Pembangunan, sebuah penegasan yang sangat relevan dengan kondisi bangsa yang majemuk.
Lebih jauh, ia berharap semangat doa kebangsaan ini tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan diterjemahkan dalam aksi nyata di lingkungan masing-masing. Setiap individu dapat memulai dari hal-hal kecil, seperti menyapa tetangga yang berbeda keyakinan, bekerja sama dalam kegiatan sosial, atau sekadar tidak menyebarkan ujaran kebencian. Tindakan-tindakan sederhana ini jika dilakukan kolektif akan menciptakan dampak besar bagi persatuan bangsa.
Menutup sambutannya, Menag kembali mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kerukunan sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban. Ia optimis bahwa dengan modal kerukunan yang kuat, Indonesia akan mampu menghadapi berbagai dinamika zaman dan menjadi bangsa yang berdaya saing di tingkat global. Pembangunan yang merata dan inklusif hanya bisa diraih dalam suasana persaudaraan yang tulus dan saling menghargai.
Kegiatan doa kebangsaan yang digelar ini menjadi pengingat bagi semua bahwa Indonesia adalah rumah bersama bagi seluruh anak bangsa. Di tengah perbedaan, kita tetap satu tujuan, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan berkeadaban. Kerukunan adalah modal fundamental yang harus terus dirawat, karena tanpanya, seluruh upaya pembangunan akan kehilangan arah dan maknanya.




