Warga RI Makin Pilih Liburan di Dalam Negeri, Ini Datanya

By

Tyas muwaffaqah

1 Agustus 2026, 01:37 WIB

Warga RI Makin Pilih Liburan di Dalam Negeri, Ini Datanya
Warga RI Makin Pilih Liburan di Dalam Negeri, Ini Datanya

STNK.CO.ID – 01 Agustus 2026 | Muncul fenomena orang RI ogah-ogahan berlibur ke luar negeri, ada apa? Pertanyaan ini kini menjadi sorotan setelah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) merilis tren perjalanan masyarakat Indonesia untuk tahun 2026. Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran signifikan: jumlah wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri mengalami penurunan, sementara tingkat hunian hotel domestik justru meningkat.

Baca juga:

Fenomena ini menarik untuk dikaji, terutama karena selama beberapa tahun terakhir, berlibur ke luar negeri sempat menjadi gaya hidup yang digemari banyak kalangan. Berbagai faktor mulai dari kemudahan akses penerbangan, harga tiket yang relatif terjangkau, hingga dorongan media sosial membuat destinasi seperti Singapura, Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan selalu ramai dikunjungi wisatawan Indonesia.

Data PHRI dan Pergeseran Pola Wisata

Beberapa faktor yang diduga menjadi pemicu pergeseran ini antara lain:

  • Nilai tukar rupiah yang melemah membuat biaya berlibur ke luar negeri menjadi lebih mahal.
  • Meningkatnya kualitas destinasi wisata dalam negeri, mulai dari pengelolaan objek wisata, fasilitas, hingga kebersihan.
  • Maraknya promosi wisata domestik oleh pemerintah daerah maupun pelaku industri pariwisata.
  • Kesadaran masyarakat untuk mencintai produk dan destinasi lokal.

Mengapa Masyarakat Mulai Ogah Liburan ke Luar Negeri?

Muncul fenomena orang RI ogah-ogahan berlibur ke luar negeri, ada apa lagi? Ternyata, selain faktor ekonomi, ada juga perubahan preferensi. Banyak wisatawan yang mulai menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi wisata yang tidak kalah dengan negara lain. Dari pantai eksotis, pegunungan hijau, hingga kekayaan budaya yang luar biasa, semua bisa ditemukan di dalam negeri.

Baca juga:

Selain itu, liburan domestik juga dianggap lebih hemat. Biaya transportasi dan akomodasi yang lebih murah dibandingkan ke luar negeri memungkinkan keluarga untuk berlibur lebih lama atau lebih sering. Generasi muda juga mulai aktif mempromosikan wisata lokal melalui media sosial, sehingga menciptakan tren baru di kalangan milenial dan Gen Z.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kepuasan terhadap layanan pariwisata dalam negeri. Banyak hotel dan pengelola destinasi yang kini meningkat kualitasnya, menawarkan pengalaman yang setara dengan standar internasional. Pelaku usaha pun semakin kreatif dalam mengemas paket wisata sehingga mampu bersaing dengan destinasi global.

Dampak Positif bagi Ekonomi dan Pariwisata Lokal

Pergeseran tren ini tentu membawa angin segar bagi perekonomian nasional. Dengan meningkatnya wisatawan domestik, roda ekonomi di daerah-daerah akan semakin berputar. Masyarakat lokal mendapat manfaat langsung dari kunjungan wisatawan, mulai dari sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga oleh-oleh khas.

Baca juga:

PHRI sendiri optimistis bahwa tren ini akan berlanjut pada tahun-tahun mendatang, asalkan semua pihak terus berinovasi dalam mengembangkan destinasi dan meningkatkan kualitas pelayanan. Ke depan, diharapkan wisatawan tidak hanya mengunjungi Bali atau Yogyakarta, tetapi juga mulai mengeksplorasi destinasi-destinasi tersembunyi di berbagai provinsi.

Meskipun demikian, bukan berarti minat berlibur ke luar negeri hilang sepenuhnya. Fenomena orang RI ogah-ogahan berlibur ke luar negeri lebih merupakan pembagian porsi yang lebih seimbang antara wisata luar dan dalam negeri. Sebagian kalangan tetap memilih ke luar negeri untuk pengalaman tertentu, namun mayoritas kini mulai menempatkan destinasi lokal sebagai prioritas utama.

Kesimpulannya, muncul fenomena orang RI ogah-ogahan berlibur ke luar negeri merupakan respons natural terhadap berbagai perubahan ekonomi dan preferensi wisata. Masyarakat Indonesia semakin sadar akan potensi besar pariwisata negeri sendiri, dan ini menjadi momentum emas bagi industri pariwisata dalam negeri untuk terus berbenah. Dukungan dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar tren positif ini dapat bertahan dan berdampak jangka panjang bagi kesejahteraan bersama.

Related Post