Daftar Isi
STNK.CO.ID – 12 Juli 2026 | Bonnie Triyana Ajak Gen Z Hidupkan Ruang Diskusi Lewat Bedah Buku Marhaenisme dalam sebuah acara yang digelar di Lebak, Banten. Acara ini menyoroti relevansi ajaran Marhaenisme di era digital, sekaligus mengajak generasi muda untuk kritis terhadap kapitalisme ekonomi digital.
Marhaenisme di Era Digital
Dalam bedah buku tersebut, Bonnie Triyana menekankan bahwa Marhaenisme, yang merupakan ideologi perjuangan rakyat kecil, masih sangat relevan untuk diterapkan di era digital. Ia mengajak Gen Z untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan platform digital sebagai ruang diskusi dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Bonnie mencontohkan bagaimana semangat Marhaenisme dapat diadaptasi untuk melawan eksploitasi dalam ekonomi digital, seperti kerja tidak tetap dan upah murah yang kerap dialami pekerja gig.
Sejarah Peristiwa Kudatuli PDI
Acara bedah buku juga mengulas peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) yang melibatkan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Bonnie menjelaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kekuasaan dapat merepresi perjuangan rakyat. Ia mendorong generasi muda untuk mempelajari sejarah agar tidak mudah dimanipulasi oleh narasi kekuasaan. Pemahaman sejarah, kata Bonnie, adalah kunci untuk merawat berpikir kritis dan membangun kesadaran politik yang sehat.
Kritik terhadap Kapitalisme Ekonomi Digital
Bonnie Triyana Ajak Gen Z Hidupkan Ruang Diskusi Lewat Bedah Buku Marhaenisme juga mengkritik kapitalisme dalam ekonomi digital. Ia menyoroti bagaimana platform digital besar seperti e-commerce dan media sosial justru memperkuat ketimpangan ekonomi, bukan menguranginya. Gen Z, sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, harus mampu melihat di balik layar dan menolak praktik eksploitasi. Bonnie menyerukan perlunya gerakan kolektif untuk menciptakan ekonomi digital yang adil dan berpihak pada rakyat kecil.
Merawat Berpikir Kritis Generasi Muda
Salah satu poin penting dalam diskusi ini adalah cara merawat berpikir kritis di kalangan Gen Z. Bonnie menekankan pentingnya ruang diskusi yang terbuka dan aman, di mana setiap orang dapat menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi. Melalui acara seperti bedah buku, ia berharap lahirlah komunitas-komunitas kecil yang menjadi motor perubahan. Generasi muda harus berani mempertanyakan kebenaran yang diterima begitu saja dan selalu mencari alternatif narasi. Bonnie juga mengingatkan bahwa berpikir kritis tidak cukup hanya di tingkat individu, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata.
Relevansi Marhaenisme bagi Gen Z
Bonnie Triyana Ajak Gen Z Hidupkan Ruang Diskusi Lewat Bedah Buku Marhaenisme menjadi momentum bagi anak muda untuk kembali menggali nilai-nilai perjuangan yang terkandung dalam Marhaenisme. Di tengah derasnya arus informasi digital, Bonnie mengajak Gen Z untuk tidak terjebak dalam konsumsi konten yang dangkal. Ia meyakini bahwa dengan menghidupkan ruang diskusi, generasi muda dapat menemukan solusi atas berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi bangsa. Acara ini dihadiri puluhan peserta yang antusias berdiskusi, menunjukkan bahwa minat terhadap ideologi perjuangan masih hidup di kalangan anak muda.
Kesimpulannya, Bonnie Triyana Ajak Gen Z Hidupkan Ruang Diskusi Lewat Bedah Buku Marhaenisme merupakan langkah strategis untuk membangun kesadaran kritis di era digital. Dengan memahami sejarah, mengkritik kapitalisme digital, dan terus merawat ruang diskusi, Gen Z diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Marhaenisme bukanlah ideologi usang, melainkan panduan yang relevan untuk menghadapi tantangan zaman.




