Daftar Isi
STNK.CO.ID – 05 Agustus 2026 | Isu mengenai laju truk listrik tanah air terganjal jarak tempuh baterai menjadi perhatian utama dalam percepatan transisi energi di sektor transportasi. Meskipun pemerintah terus mendorong adopsi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, khususnya untuk angkutan barang, realitas di lapangan menunjukkan bahwa teknologi ini masih menghadapi hambatan signifikan. Jarak tempuh yang terbatas menjadi faktor krusial yang membuat para pelaku industri logistik berpikir dua kali untuk beralih dari truk konvensional ke truk listrik.
Tantangan Utama: Jarak Tempuh Baterai yang Terbatas
Truk listrik di Indonesia umumnya memiliki jarak tempuh yang jauh lebih pendek dibandingkan truk diesel. Jika truk diesel mampu menempuh ratusan kilometer dalam sekali pengisian bahan bakar, truk listrik rata-rata hanya mampu menempuh 200-300 kilometer, tergantung pada muatan dan kondisi jalan. Di wilayah Indonesia yang luas dan berbukit, angka tersebut sering kali menyusut drastis. Kondisi ini menjadikan laju truk listrik tanah air terganjal jarak tempuh baterai, terutama untuk rute antar kota atau antar pulau yang membutuhkan perjalanan jarak jauh.
Beban muatan juga mempengaruhi konsumsi energi secara signifikan. Semakin berat muatan yang diangkut, semakin cepat pula energi baterai terkuras. Hal ini menjadi dilema bagi perusahaan logistik yang membutuhkan kapasitas angkut besar tetapi dihadapkan pada keterbatasan jarak tempuh. Dengan demikian, efisiensi operasional truk listrik masih kalah bersaing jika dibandingkan dengan truk berbahan bakar fosil.
Infrastruktur Pengisian Daya Belum Memadai
Selain masalah jarak tempuh, infrastruktur penunjang seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) juga belum merata. Hingga saat ini, SPKLU masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya di kota-kota besar dan kawasan industri. Jalur logistik utama di luar Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, masih minim fasilitas pengisian daya. Padahal, truk listrik membutuhkan waktu pengisian yang relatif lama dibandingkan mengisi bahan bakar konvensional. Rata-rata pengisian cepat (fast charging) memerlukan waktu 1-2 jam untuk mencapai 80 persen kapasitas baterai, sementara pengisian lambat bisa memakan waktu semalaman.
Ketika sebuah truk listrik kehabisan daya di tengah perjalanan, proses evakuasi atau pengisian darurat menjadi rumit dan memakan waktu. Hal ini meningkatkan risiko keterlambatan pengiriman dan biaya operasional tambahan. Akibatnya, laju truk listrik tanah air terganjal jarak tempuh baterai yang belum didukung ekosistem pengisian yang efisien.
Biaya Pembelian dan Perawatan yang Tinggi
Faktor ekonomi juga menjadi penghambat utama. Harga truk listrik saat ini masih jauh lebih mahal dibandingkan truk diesel dengan spesifikasi serupa. Mahalnya komponen baterai menjadi penyumbang terbesar dalam struktur biaya kendaraan. Meskipun pemerintah telah memberikan insentif untuk kendaraan listrik, khususnya untuk kendaraan penumpang, insentif untuk truk listrik masih belum optimal. Biaya perawatan yang lebih rendah memang menjadi keunggulan truk listrik, namun biaya awal yang tinggi membuat banyak calon pembeli urung meliriknya.
Selain itu, masa pakai baterai juga menjadi pertimbangan. Baterai truk listrik memiliki siklus pengisian yang terbatas dan perlu diganti setelah beberapa tahun pemakaian. Biaya penggantian baterai yang sangat besar dapat menggerus keuntungan operator transportasi. Tanpa adanya kebijakan yang lebih konkret, seperti subsidi baterai atau skema sewa baterai, adopsi truk listrik di Indonesia akan berjalan lambat.
Dukungan Pemerintah dan Produsen
Pemerintah sebenarnya telah menunjukkan komitmen untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik melalui berbagai peraturan dan peta jalan. Target penurunan emisi karbon dan pengurangan impor bahan bakar minyak menjadi pendorong utama. Namun, implementasi di sektor angkutan barang masih jauh dari harapan. Beberapa produsen truk listrik telah mulai menguji coba kendaraan mereka di Indonesia, bekerja sama dengan perusahaan logistik dan pelabuhan. Uji coba tersebut dilakukan di area pelabuhan dan kawasan industri dengan jarak tempuh yang relatif pendek, sehingga belum benar-benar menguji kemampuan truk pada rute antarkota.
Produsen juga terus berinovasi mengembangkan baterai dengan kapasitas lebih besar dan waktu pengisian yang lebih singkat. Teknologi baterai solid-state dan pengisian ultra-cepat diharapkan dapat menjadi solusi di masa depan. Namun, adopsi teknologi tersebut masih membutuhkan waktu lama dan investasi besar. Sementara itu, kolaborasi antara pemerintah, produsen, dan pemangku kepentingan lainnya perlu diperkuat untuk membangun infrastruktur yang mendukung.
Potensi dan Masa Depan Truk Listrik
Meskipun laju truk listrik tanah air terganjal jarak tempuh baterai, bukan berarti peluangnya tertutup sama sekali. Untuk aplikasi tertentu, seperti pengiriman barang dalam kota, truk listrik sudah cukup layak digunakan. Jarak tempuh harian yang relatif pendek dan tersedianya SPKLU di kota-kota besar membuat truk listrik menjadi alternatif yang menarik untuk distribusi di wilayah perkotaan. Beberapa perusahaan e-commerce dan ritel modern telah mencoba menggunakan truk listrik untuk armada pengiriman mereka.
Selain itu, perkembangan teknologi baterai yang semakin pesat memberikan harapan besar. Baterai dengan kepadatan energi lebih tinggi memungkinkan truk listrik menempuh jarak lebih jauh dalam waktu pengisian yang sama. Harga baterai juga diperkirakan terus turun seiring dengan volume produksi yang meningkat. Dengan begitu, pada lima hingga sepuluh tahun ke depan, jarak tempuh truk listrik bisa setara dengan truk konvensional dan biayanya menjadi lebih kompetitif.
Kesimpulan
Kehadiran truk listrik di Indonesia merupakan langkah maju dalam mewujudkan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Namun, laju truk listrik tanah air terganjal jarak tempuh baterai yang belum mampu menjawab kebutuhan operasional logistik, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Infrastruktur pengisian yang belum merata dan biaya kepemilikan yang tinggi semakin memperlambat adopsi. Diperlukan kerja sama yang erat antara pemerintah, produsen, dan pelaku industri untuk mengatasi hambatan ini. Dengan inovasi teknologi yang terus berkembang dan kebijakan yang tepat, bukan tidak mungkin truk listrik akan menjadi tulang punggung logistik nasional di masa depan.




