STNK.CO.ID – 20 Juli 2026 | Fenomena jualan rumah subsidi susah laku pengembang ungkap biang keroknya kini menjadi sorotan di sektor properti nasional. Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (ASPRUMNAS) mengakui bahwa penjualan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menghadapi tantangan serius. Meskipun pemerintah terus mendorong program sejuta rumah, realitas di lapangan menunjukkan bahwa minat pembeli justru menurun.
Ketua Umum ASPRUMNAS, Junaidi, menjelaskan bahwa fenomena jualan rumah subsidi susah laku pengembang ungkap biang keroknya juga dipicu oleh lokasi perumahan yang jauh dari pusat aktivitas ekonomi. “Banyak rumah subsidi dibangun di daerah pinggiran yang minim akses transportasi umum dan fasilitas publik. Ini membuat MBR enggan membeli karena biaya transportasi dan waktu tempuh yang tinggi,” ujarnya dalam konferensi pers baru-baru ini.
Selain itu, masalah perizinan yang berbelit dan lamanya proses sertifikasi lahan turut menghambat pengembang untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif. Pengembang juga mengeluhkan adanya praktik spekulasi harga oleh oknum yang memanfaatkan program subsidi. Akibatnya, rumah yang seharusnya terjangkau menjadi lebih mahal di pasaran.
Solusi yang diusulkan ASPRUMNAS antara lain penyederhanaan birokrasi, pemberian insentif fiskal bagi pengembang, dan peningkatan infrastruktur di kawasan perumahan subsidi. Pemerintah juga diminta untuk lebih ketat mengawasi distribusi rumah subsidi agar tepat sasaran.
Fenomena jualan rumah subsidi susah laku pengembang ungkap biang keroknya ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Tanpa perbaikan sistem, target pembangunan satu juta rumah per tahun sulit tercapai. MBR pun akan terus kesulitan memiliki hunian layak.
Kesimpulannya, masalah penjualan rumah subsidi membutuhkan sinergi antara pemerintah, pengembang, dan lembaga keuangan. Perbaikan dari sisi regulasi, infrastruktur, dan daya beli menjadi kunci agar program rumah subsidi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.




