Lamongan Galakkan Gerakan Tanam Pohon Massal untuk Tekan Emisi Karbon

By

Reshawnda Morgance

13 Juli 2026, 17:51 WIB

Lamongan Galakkan Gerakan Tanam Pohon Massal untuk Tekan Emisi Karbon
Lamongan Galakkan Gerakan Tanam Pohon Massal untuk Tekan Emisi Karbon

STNK.CO.ID – 13 Juli 2026 | Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama masyarakat dan berbagai elemen pegiat lingkungan kembali menggalakkan gerakan tanam pohon massal sebagai langkah konkret menekan emisi karbon. Aksi ini merupakan respons terhadap persoalan ekologis seperti perubahan iklim, kerusakan hutan, dan peningkatan risiko bencana alam yang semakin nyata.

Baca juga:

Langkah Nyata Mengatasi Krisis Iklim

Gerakan tanam pohon massal di Lamongan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dirancang sebagai program berkelanjutan. Ribuan bibit pohon ditanam di lahan kritis, bantaran sungai, dan area publik lainnya. Jenis pohon yang dipilih adalah varietas lokal yang memiliki daya serap karbon tinggi, seperti trembesi, mahoni, dan jati.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lamongan menyatakan bahwa target penanaman tahun ini mencapai 500.000 pohon di seluruh kecamatan. “Kami ingin gerakan ini menjadi kebiasaan, bukan sekadar agenda tahunan. Setiap warga diharapkan menanam dan merawat minimal satu pohon di lingkungannya,” ujarnya.

Partisipasi Masyarakat dan Kolaborasi Multi-Pihak

Keberhasilan gerakan tanam pohon massal tidak lepas dari partisipasi aktif masyarakat. Kelompok tani, pelajar, dan organisasi kemasyarakatan turut serta dalam penanaman dan perawatan. Selain itu, perusahaan swasta melalui program tanggung jawab sosial juga menyumbangkan bibit dan pendanaan.

Baca juga:

Salah satu warga, Ahmad, mengaku senang bisa ikut serta. “Dulu lahan ini gersang, sekarang mulai hijau. Udara juga terasa lebih sejuk,” katanya. Program ini juga diintegrasikan dengan edukasi lingkungan di sekolah-sekolah.

Manfaat Ekologis dan Ekonomi

Selain menyerap karbon, gerakan ini memberikan manfaat ekologis lain seperti mencegah erosi, menjaga sumber air, dan meningkatkan keanekaragaman hayati. Dalam jangka panjang, hasil hutan non-kayu seperti buah dan getah juga dapat menambah penghasilan masyarakat.

Pemantauan dampak penanaman akan dilakukan secara berkala menggunakan data satelit dan partisipasi warga. Pemerintah daerah juga berencana membangun bank karbon desa untuk memberikan insentif bagi masyarakat yang menjaga kelestarian pohon.

Baca juga:

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski antusiasme tinggi, tantangan tetap ada. Perubahan cuaca ekstrem dan hama sering mengancam pertumbuhan bibit. Oleh karena itu, perawatan intensif dan pengawasan rutin menjadi kunci. Pemerintah Lamongan berkomitmen menyediakan anggaran khusus untuk pemeliharaan.

Gerakan tanam pohon massal di Lamongan diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam upaya menekan emisi karbon dan memitigasi perubahan iklim. Dengan sinergi semua pihak, target pengurangan emisi karbon nasional dapat tercapai.

Aksi ini membuktikan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa hanya dibicarakan, tetapi harus dijawab dengan tindakan nyata. Lamongan telah memulai, dan diharapkan terus berlanjut hingga generasi mendatang.

Related Post