Pemadaman Bergilir Melanda Sejumlah Wilayah: UMKM Terpuruk, SPBU Andalkan Genset, dan Dugaan Korupsi Batu Bara Mengemuka

By

zarifah Goldy

8 Juli 2026, 11:38 WIB

Pemadaman Bergilir Melanda Sejumlah Wilayah: UMKM Terpuruk, SPBU Andalkan Genset, dan Dugaan Korupsi Batu Bara Mengemuka
Pemadaman Bergilir Melanda Sejumlah Wilayah: UMKM Terpuruk, SPBU Andalkan Genset, dan Dugaan Korupsi Batu Bara Mengemuka

STNK.CO.ID – 08 Juli 2026 | Pemadaman bergilir yang melanda berbagai daerah di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir telah menimbulkan dampak serius bagi perekonomian dan kehidupan masyarakat. Mulai dari Banjarbaru, Palangka Raya, hingga Kalimantan Barat, pemadaman listrik yang terjadi secara bergilir tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga memicu kerugian ekonomi yang signifikan. Di tengah situasi sulit ini, muncul dugaan korupsi dalam pengadaan batu bara yang diduga menjadi salah satu pemicu gangguan pasokan listrik.

Baca juga:

Pemadangan Bergilir di Banjarbaru: UMKM Merugi Omzet Anjlok

Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pemadaman bergilir telah berlangsung selama hampir dua pekan. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pihak yang paling terdampak. Lilis, seorang pedagang minuman dingin, mengeluhkan usahanya yang sangat bergantung pada listrik untuk mengoperasikan mesin cup sealer. “Hampir tiap hari di sini padam, 4 jam perhari,” ujarnya. Akibatnya, Lilis terpaksa menutup gerainya setiap kali listrik padam, yang berdampak langsung pada penurunan omzet.

Keluhan serupa datang dari Pasha, pelaku UMKM kuliner yang menjual frozen food. Ia khawatir kualitas produknya menurun karena lemari pendingin tidak berfungsi saat pemadaman. Tidak hanya itu, Pasha juga mengkhawatirkan kerusakan pada kompresor akibat tegangan listrik yang tidak stabil. Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya sektor UMKM terhadap pemadaman bergilir yang tidak menentu.

Dampak di Palangka Raya: SPBU Layani BBM dengan Jeriken

Pemadaman bergilir juga melanda Palangka Raya sejak akhir Juni 2026. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terpaksa mengandalkan genset untuk tetap beroperasi. Pengawas SPBU Jalan S Parman, Hendri, mengatakan bahwa operasional tetap berjalan, namun beban biaya meningkat. Selain itu, SPBU juga melayani pembelian BBM nonsubsidi menggunakan jeriken untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar genset masyarakat. Fenomena ini menjadi sorotan karena menunjukkan betapa krusialnya pasokan listrik bagi sektor energi.

Baca juga:

Meluas ke Kalimantan Barat: PLN Targetkan Normal 11 Juli

Pemadangan listrik juga merambah Kalimantan Barat. PT PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Barat menargetkan sistem kelistrikan kembali normal pada 11 Juli 2026. Namun, dampak sudah terasa. Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa Kota Pontianak, Hendry Pangestu Lim, mengungkapkan kerugian besar yang dialami warga, termasuk dirinya yang kehilangan sembilan ekor ikan arwana senilai sekitar Rp90 juta akibat gangguan listrik. Kerugian ekonomi seperti ini diperkirakan meluas di berbagai sektor.

Indikasi Korupsi Pasokan Batu Bara Senilai Rp5 Triliun

Di tengah krisis pemadaman bergilir, Polri melalui Kortas Tipikor mengusut dugaan korupsi dalam pengadaan batu bara untuk PLTU periode 2018-2026. Kerugian negara ditaksir mencapai Rp5 triliun. Kepala Kortas Tipikor Polri Irjen Totok Suharyanto mengungkapkan bahwa penyidik telah menemukan manipulasi dokumen kualitas dan kuantitas batu bara yang dipasok oleh PT OBP dan PT BRA. Praktik ini diduga berkontribusi terhadap gangguan pasokan batu bara yang memicu blackout di Sumatera dan pemadaman bergilir di wilayah lain. Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) mendukung pengusutan tuntas kasus ini.

Reformasi Sistem Kelistrikan dan Diversifikasi Energi

Para ahli menilai bahwa pemadaman bergilir ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan reformasi sistem kelistrikan nasional. Institute for Essential Services Reform (IESR) mendorong pembaruan model pasar listrik yang masih didominasi skema single buyer agar lebih fleksibel dan mampu mengintegrasikan energi terbarukan. Deon Arinaldo, Direktur Transformasi Sistem Energi IESR, menekankan pentingnya insentif bagi fleksibilitas sistem, seperti teknologi penyimpanan energi dan pembangkit yang fleksibel.

Baca juga:

Di sisi lain, diversifikasi energi menjadi strategi krusial. Pengamat energi Feiral Rizky Batubara menyarankan pengembangan panas bumi sebagai pembangkit baseload yang stabil, tidak tergantung cuaca. Indonesia memiliki potensi panas bumi 24 GW, namun baru dimanfaatkan sekitar 2,7 GW. Dengan dukungan kebijakan dan investasi, diversifikasi ini dapat mengurangi ketergantungan pada batu bara dan memperkuat ketahanan sistem kelistrikan.

PT PLN sendiri memastikan tidak ada lagi pemadaman di Jawa sejak 21 Juni 2026, namun peristiwa blackout di Sumatera dan pemadaman bergilir di berbagai daerah menunjukkan perlunya perbaikan sistem secara menyeluruh. Ke depan, pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga melakukan reformasi struktural agar keandalan pasokan listrik terjamin.

Pemadaman bergilir yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia telah memberikan pelajaran berharga tentang rapuhnya sistem kelistrikan nasional. Dampak ekonomi yang dirasakan UMKM dan masyarakat luas, dugaan korupsi yang mengemuka, serta desakan reformasi pasar listrik menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Diperlukan langkah konkret dari pemerintah, PLN, dan pemangku kepentingan untuk memastikan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Author Image

Related Post